JAKARTA– Efikasi vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia cukup rendah. Sehingga membuat target herd immunity atau kekebalan komunal sulit tercapai. Ini salah satu hasil kajian dari Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS).

Direktur IDEAS Yusuf Wibisono mengatakan bergantung hanya dari vaksinasi untuk keluar dari pandemi Covid-19 adalah pilihan kebijakan yang beresiko tinggi. Menurut dia ambang batas herd immunity di Indonesia tidak akan pernah bisa dicapai. ’’Meskipun kebijakan vaksinasi massal telah diadopsi secara optimal,’’ katanya (15/8).

Yusuf menjelaskan pada awalnya pemerintah menentukan herd immunity diraih dengan vaksinasi massal kepada 181,5 juta orang. Perhitungan ini menggunakan vaksin dengan efikasi 60 persen. Tetapi kemudian vaksin Covid-19 direkomendasikan untuk anak-anak usia 12 tahun ke atas. Akibatnya sasaran yang harus divaksin untuk mencapai herd immunity meningkat jadi 200 juta orang atau sekitar 74 persen dari populasi penduduk Indonesia.

Dia lantas mengaitkan target herd immunity dengan daya penularan virus Covid-19. Yusuf mengatakan daya penularan virus (R0) varian pertama seperti di Wuhan terdapat 2,5 poin dan membutuhkan efikasi vaksin setidaknya 80 persen.

Tetapi dalam perkembangannya muncul varian Alpha dengan tingkat R0 mencapai 4,5 poin dan carian Delta dengan R0=6,5 poin. ’’Dari data tersebut, kita membutuhkan vaksin dengan efikasi sangat tinggi sekaligus cakupan vaksinasi yang sangat luas,’’ tuturnya.

Untuk menghadapi varian Alpha dengan tingkat R0 = 4,5 poin, dibutuhkan efikasi vaksin 85 persen dan cakupan vaksinasi 92 persen dari populasi. Sedangkan untuk menghadang varian Delta dengan tingkat R0=6,5 poin dibutuhkan efikasi vaksin 90 persen dan cakupan vaksinasi 94 persen dari populasi.

’’Target (herd immunity, Red) yang nyaris mustahil diraih di tengah berbagai keterbatasan yang ada,’’ jelasnya. Mulai dari kendala pasokan dan distribusi vaksin. Kemudian ketersediaan vaksin impor dengan kecepatan vaksinasi yang masih rendah membuat skenario mengejar herd immunity cukup sulit tercapai.

Kalaupun distribusi dan kegiatan vaksinasi sudah merata, herd immunity tetap sulit dicapai karena adanya mutasi virus. Menurutnya mutasi virus akan menghasilkan virus baru yang mudah menular serta resisten terhadap vaksin yang ada. Belum lagi kekebalan atau imunitas akibat vaksinasi maupun pernah terinfeksi Covid-19 tidak bertahan selamanya.

’’Antibodi yang dihasilkan dari vaksin Sinovac misalnya, menurun di bawah ambang batas setelah enam bulan,’’ tuturnya. Kondisi ini yang kemudian menyebabkan munculnya fenomena reinfeksi. Yaitu penyintas Covid-19 yang kembali terinfeksi Covid-19.

Untuk itu Yusuf mengatakan upaya non farmasi atau di luar upaya vaksinasi untuk menekan kasus Covid-19 harus tetap dijalankan. ’’Intervensi non farmasi skala besar seperti lockdown yang dilakukan secara sistematis bersamaan dengan kebijakan testing, tracing, dan treatment,’’ katanya. Upaya tersebut harus dilakukan secara agresif. Sebab sudah terbukti paling efektif menghentikan serta memutus transmisi penularan Covid-19. (wan)