JAKARTA- Densus 88 Anti Teror berupaya mencegah aksi teror terjadi di hari kemerdekaan. Kemarin (15/8) dua hari jelang peringatan hari kemerdekaan, pasukan berlambang burung hantu itu menangkap 41 terduga teroris di sepuluh provinsi. Mayoritas diduga merupakan anggota kelompok Jamaah Islamiyah (JI).

Kabagpenum Divhumas Polri Kombespol Ahmad Ramadan menjelaskan, dalam penangkapan terhadap terduga teroris dalam beberapa hari ini telah ditangkap 41 orang terduga teroris. Yang terbaru empat orang ditangkap. ”tambahannya empat orang ditangkap ,” ujarnya.

Dari empat orang tersebut, satu orang ditangkap di Banten dan tiga orang ditangkap di Jawa Barat (Jabar). Pada Sabtu (14/8) baru terdapat 37 terduga teroris yang ditangkap di sepuluh provinsi. Selain Banten dan Jabar, yakni Sumatera Utara, Jambi, Lampung, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Kalimantan Timur (Kaltim), dan Kalimantan Barat. ”Tangkapan dalam beberapa hari” jelasnya.

Untuk jaringan dari terduga teroris itu, dia menuturkan bahwa sebagian besar merupakan kelompok JI. Hanya ada dua orang yang diduga bukan berasal dari JI, mereka yang ditangkap di Kaltim. ”2 orang di Kaltim ini kelompok media sosial,” tuturnya.

Namun begitu, korps bhayangkara belum menjelaskan dengan detil terkait rencana para terduga teroris. Serta, bagaimana peran mereka dalam kelompok terlarang JI. ”Penjelasan keterlibatan setiap orang menyusul,” ujarnya.

Sementara Pengamat Terorisme Al Chaidar mengapresiasi langkah Polri dalam melakukan penangkapan terhadap 41 terduga teroris. Menurutnya, memang deteksi dini untuk mencegah aksi teror perlu dilakukan. Apalagi, saat ini jelang peringatan hari kemerdakaan, bisa jadi pasukan burung hantu berupaya mencegah aksi saat hari kemerdekaan. ”Ini langkah yang penting dalam mencegah,” jelasnya.

Kelompok teroris biasanya memang menyasar waktu tertentu. Dari hari kemerdekaan hingga peringatan keagamaan. Hal itu dilakukan dengan beragam tujuan, dari sekedar menunjukkan eksistensi, adanya instruksi dari petinggi kelompok teror hingga balas dendam. ”Itu sudah biasa mereka lakukan,” ujarnya.

Yang juga penting, dalam pemeriksaan terhadap terduga teroris ini jangan sampai terjadi kekerasan. Pemeriksaan jangan sampai menimbulkan kebencian baru. Dari yang hanya sekedar ikut-ikutan, jangan sampai malah memiliki dendam. Pemeriksaan yang humanis diperlukan untuk mencegah bibit-bibit terorisme tumbuh. ”Lagi pula mereka sudah tertangkap, tidak lagi bisa melawan,” paparnya. (idr)