Tak ada proses yang mudah untuk mengecap manisnya berusaha. Termasuk Arisdiansah dan Susi Ratna Wijaya saat memulai toko buah online. Dari modal seadanya, hingga kini dirikan outlet di berbagai wilayah.

 

SETELAH usaha yang dijalani sebelumnya bangkrut, pasangan Arisdiansah dan Susi Ratna Wijaya tak menyerah. Sejak 2012 menjadi supplier buah di supermarket, namun tak juga untung didapat. Hingga akhirnya pada 2016 memulai usaha toko buah online dari modal hanya Rp 1 juta.

“Dan kondisinya kami juga punya utang dari usaha supplier buah sebelumnya. Soalnya enggak langsung cash kalau di supermarket. Sistem invoice. Bahkan sampai supplier buah ke Ambon juga kami,” jelas Arisdiansah atau karib disapa Aris.

Diceritakan jika saat itu modal yang ada bahkan terus diputar dalam satu hari. “Jadi misal pagi jualan, alhamdulillah habis. Saat siang, keuntungan itu tadi dibelanjakan buah lagi untuk dijual sore, dan begitu terus,” lanjutnya.

Diakui sang istri Susi, jika saat itu memang momentum buah anggur impor sedang murah. Dianggap sebagai salah satu buah yang cukup mahal, membuat usaha yang mereka beri nama Watermelon dibanjiri orderan.

Aris juga memanfaatkan facebook ads saat itu. Sehingga postingan promosi mereka menjangkau para calon pembeli. “Tahun itu memang belum banyak yang tahu soal facebook ads, saya pelajari. Bahkan sampai antrian pembeli itu di pinggir jalan. Sehari bisa jual ratusan kilogram,” ungkap Susi antusias.

Dia tak menyangka, momen dimana memulai usaha justru ada berkah. Toko online buahnya pun semakin berkembang. Yang mulanya dikerjakan sendiri, dia promosi dan mencatat orderan, kemudian suami menjadi kurir.

“Jadi sampai hapal area di Loa Bakung. Banyak juga pelanggan dan sampai hapal sama saya,” celetuk Aris lalu terkekeh. Perlahan tapi pasti, karyawan mereka semakin bertambah. “Sekarang alhamdulillah ada sekitar 40-an karyawan,” lanjut pria kelahiran 1983 itu.

Bertahun-tahun jalani usaha, Aris merasa bahwa ada banyak pelajaran yang menjadikan usahanya semakin berkembang. Salah satunya untuk tidak dibiasakan berhutang. “Itu salah satu nilai yang bisa saya bagikan selama memulai usaha ini,” ujarnya.

Diakui jika mereka memiliki utang ratusan juta imbas usaha sebelumnya. Tak menyerah dengan keadaan dan coba mencari peluang. Memilih usaha buah karena merupakan salah satu komoditi yang dinilai Aris tak akan pernah sepi peminat.

Apalagi selama pandemi, keuntungan mereka naik terus. “Bahkan bisa sampai 300-400 persen keuntungan, apalagi kalau PPKM seperti sekarang. Dilema, di sisi lain senang tapi juga sedih,” ujar Aris. “Sedihnya karena beberapa teman kami yang sesama pengusaha omsetnya menurun misal PPKM begini,” sambung Susi.

Selama pandemi, banyak penjual buah dadakan. Beranda akun facebook-nya bahkan hampir semua teman mengunggah dagangan buahnya. Dia tak menganggap itu sebagai saingan. Sebab menurutnya, rezeki sudah diatur.

Selain itu, berkah lain selama pandemi yakni munculnya berbagai tawaran untuk mengajak bermitra. Selain memiliki tiga outlet di Samarinda, mereka juga bermitra dan berdiri dua outlet di Bontang serta satu di Melak, Kutai Barat. Ke depan, keduanya ingin mengembangkan usaha sehingga dapat dijangkau semua orang.

“Rencananya pengin di semua titik. Jadi mereka yang jauh enggak kesulitan cari buah. Alhamdulillah untuk parcel buah, kami termasuk yang market leader di Samarinda. Terkenalnya memang secara online usaha ini,” tutup Aris. (rdm)