Alasannya sederhana, dia menyadari masyarakatnya lekat dengan penyu. Hewan bercangkang keras ini pun sudah jadi maskot pulau. Tetapi, konservasi penyu terus dilakukan untuk melawan para pemburu. Maka, inilah kisah keluarga di Derawan yang melakukan konservasi mandiri untuk penyu.

 

NOFIYATUL CHALIMAH,Derawan

 

SELAWAT terdengar dari masjid. Pertanda jamaah selesai menunaikan salat Isya. Dengan motor yang sering diutak-atik, Ahmad melaju ke utara pulau. Musim penyu bertelur biasanya dimulai Juni. Waktunya pemuda 20 tahun ini rutin menyusuri pantai tiap malam. Dia menyusuri garis pantai di pulau kelahirannya. Memeriksa, apakah ada penyu yang bertelur. Biasanya Ahmad tak sendiri, dia ditemani kakek atau saudara-saudara lainnya. Tetapi malam itu, yang menemani Ahmad adalah Firman, sepupunya yang masih duduk di SMK kelas 2.

 Mereka biasanya berkeliling memonitor penyu bertelur. Sekaligus mengedukasi wisatawan agar tak menyalakan flash saat memotret. Atau tak boleh ribut, ketika penyu membuat sarang untuk bertelur. Malam itu, Ahmad dan Firman bertemu dengan dua penyu yang bertelur. Mereka berbagi tugas. Menjaga dua penyu tetap aman ketika membuat sarang. Perlu waktu hampir dua jam menunggu penyu bertelur. Ketika telur penyu keluar, dengan sigap dua cucu Ading ini memindahkan telur ke tas kain untuk mereka pindahkan ke tempat konservasi penyu sederhana yang dibuat di belakang rumah kakek mereka.

Biasanya, sambil mengawasi penyu, Ahmad juga memberi edukasi gratis bagi para pengunjung pulau ini. "Penyu itu biasanya kalau sudah bertelur di satu tempat, dia kembali bertelur di situ. Fisik penyu itu juga unik. Tetapi banyak penyu yang cacat, ada yang kena baling-baling kapal. Seperti cangkangnya rusak dan sebagainya," kata Ahmad. Dia pun menunjukkan tag yang terpasang pada penyu yang bertelur malam itu. Tertulis tag itu dari Derawan dan tahun 1980. Artinya, penyu itu diketemukan di Derawan pada 1980. Ahmad sadar, perjuangan penyu itu berat untuk hidup.

Dia tak menampik, dahulu ketika kecil, dia mungkin sama dengan anak lain yang senang mengambil telur. Namun dia diberi tahu, bagaimana penyu berjuang hidup. Bersama dengan saudara yang lain, dia pun ikut dengan sang kakek yaitu Pak Ading, berpatroli mengamankan telur penyu di Derawan sejak 2016. Hal senada juga diakui Firman, sepupu Ahmad ini tentu saja sama dengan anak yang lain. "Akhirnya, ikut keliling mengamankan telur. Soalnya kalau kita biarkan di pantai, pasti bisa habis, banyak yang curi. Padahal sekali penyu bertelur 80 sampai seratusan lebih," kata dia.

Ading, tak hanya dibantu dua cucunya. Anak dan istrinya turut membantu juga mendukung dia. Ading dan anaknya masih aktif berkeliling patroli mengamankan telur penyu. Tetapi, usia paruh baya membuat fisiknya tak begitu prima. Istri Ading, Telma, pun turut berkeliling ketika dia tahu suaminya sedang tak enak badan, tapi masih berpatroli.

"Istri saya, sangat peduli dan penyayang penyu. Jadi saya didukung terus sama istri saya. Meskipun tak dibayar lagi untuk ini," kata Ading.

Ading mengaku, keputusan dia melakukan konservasi penyu sendiri karena dia tahu, Derawan ini bergantung dengan keberadaan penyu. Banyak wisatawan datang ke pulau ini karena ingin melihat penyu. Maka dari itu, maskot di pulau ini adalah penyu. Tak sedikit sudah warga pulau Derawan yang hidup dari sektor pariwisata. "Berbuat baik terhadap alam, alam akan memberikan yang terbaik juga kepada kita," kata Ading.

Prinsip ini yang dia anut. Pelan-pelan, warga Derawan pun diedukasi dan menyadari bahwa penyu itu penting. Meski diakui, kini dia tak mudah lagi bersua dengan penyu.

Dia khawatir, karena penyu tak sebanyak dahulu dia temui. Sebab, makin banyak masyarakat Derawan tak bisa makan, jika penyu sudah ogah ke pulau wisata ini. Ading sudah mengikuti pelatihan untuk konservasi. Dia pun menerapkannya dan membagikan ilmu konservasi ke keluarga yang membantunya. Sudah tak terhitung tukik yang dia lepaskan di laut dekat rumahnya. Dia berharap, tukik itu bisa kembali ke Pulau Derawan. Sebagai penyu dewasa, yang sekadar makan padang lamun di pinggir pantai, atau bertelur lagi di pasir Pantai Derawan. (riz/k8)