SAMARINDA–Jaksa Tri Nurhadi menilai Abbas alias Daeng Ali Abbas dan Hadi Suprapto alias Belur, tak hanya terbukti menambang tanpa izin. Kedua terdakwa itu menurut beskal asal Kejari Samarinda juga melanggar dan terbukti atas penampungan batu bara hasil praktik ilegal.

Dua dalil itu jadi dasarnya menuntut keduanya selama dua tahun pidana penjara. Kedua terdakwa yang tertangkap tangan mengeruk “emas hitam” di dekat areal pemakaman Covid-19, Jalan Serayu, Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara, medio Maret lalu, sesuai dakwaan ke satu yang disangkakannya, yakni Pasal 158 juncto Pasal 35 UU 3/2020 tentang Perubahan UU 4/2009 tentang Pertambang juncto Pasal 55 Ayat 1(1) KUHP.

“Menuntut keduanya selama dua tahun pidana penjara atas praktik pertambangan ilegal, serta penampungan hasil pertambangan ilegal,” ucap Jaksa Tri dalam persidangan virtual di Pengadilan Negeri (PN) Samarinda, (10/8).

Selain menjatuhkan pidana, keduanya dibebankan denda Rp 1 miliar subsider enam bulan pidana kurungan. Dalam amar tuntutannya, Jaksa Tri menjelaskan, Abbas dan Hadi Suprapto menggunakan kedok pematangan tanah untuk lahan kaveling demi melakukan praktik lancung mengeruk emas hitam di Kota Tepian.

Pengupasan lahan dilakukan Abbas sejak Januari 2021, dan produksinya baru dilakukan awal Maret lalu, sebelum akhirnya dibekuk kepolisian. Namun, terdapat sejumlah batu bara yang sudah diangkut dan disimpan di dermaga tambat atau jetty di Jalan Olah Bebaya, Pulau Atas, Sambutan. “Total keseluruhan batu bara yang dikeruk kedua terdakwa itu seberat 600 metriks ton,” sambungnya.

Jika perkara tersebut inkrah, barang bukti berupa batu bara akan dirampas untuk negara. Selepas JPU membacakan tuntutan, majelis hakim yang dipimpin Hongkun Otoh bersama Yulius Christian dan Agus Rahardjo menyusun ulang jadwal persidangan yang harus rampung pekan ini.

Hal itu ditempuh lantaran masa tahanan kedua terdakwa bakal habis dalam waktu dekat. “Jadi sidang pembelaan atau pledoi pada 12 Agustus, dan sidang pembacaan putusan pada 13 Agustus,” jelas Hongkun menutup persidangan. (ryu/dra/k8)