Qomarul Lailiah menjadi satu di antara dua saja wasit badminton asal Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Padahal, dulu dia asing sekali dengan bulu tangkis.

 

SIDIQ PRASETYO, Surabaya, Jawa Pos

 

AJAKAN itu datang dari seorang kawan guru: menjadi hakim garis sebuah pertandingan bulu tangkis. Padahal, hingga titik itu, hidup Qomarul Lailiah tak pernah bersinggungan dengan badminton.

Jangankan menjadi atletnya, mengayunkan raket saja tak pernah. Di SDN Gunungsari 5, Surabaya, tempatnya mengajar pada 1998, mata pelajaran yang diasuh perempuan yang akrab disapa Lia itu pun bukan olahraga, melainkan bahasa Inggris.

Tapi, Bambang Wahyu, rekannya yang mengajak, meyakinkan bahwa Lia punya bekal yang justru tak dimiliki banyak ofisial pertandingan badminton di Indonesia: kemampuan bahasa Inggris. Insentif lainnya yang membuatnya tertarik: ada iming-iming honor.

”Saya pun kemudian mempelajari aturan-aturan di bulu tangkis,” jelas Lia yang lahir di Surabaya, 24 September 1977, dari pasangan M. Subiono dan Sutami.

Maka, berkenalanlah perempuan yang sekarang mengajar di SDN Sawunggaling 1, Surabaya, tersebut dengan olahraga yang versi modernnya berkembang di Inggris itu. Yang tak pernah dia sangka membawanya ke pesta olahraga terakbar sejagat: Olimpiade.

Lia menjadi satu di antara dua saja wasit badminton Indonesia yang dipercaya BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) bertugas di Olimpiade Tokyo 2020 selain Wahyana. Seperti Lia, Wahyana juga guru, mengajar di SMPN 4 Patuk, Gunungkidul, Jogjakarta.

”Saya juga kaget dapat pemberitahuan dari BWF melalui e-mail bahwa saya ditugaskan ke Olimpiade Tokyo. Ini karena saya kan baru saja mendapatkan BWF Certificated-nya,” tutur Lia.

E-mail itu diterima pada Desember 2018. Tapi, jawaban atas rasa penasarannya akhirnya didapat saat bertugas di Japan Open 2019. Dia mendapat informasi bahwa ada syarat 30 persen petugas di Olimpiade 2020 harus perempuan. Dan, Lia adalah salah satunya. Selain dia, ada tiga ofisial pertandingan perempuan lagi yang mendapat kepercayaan dari BWF.

Lia tak menyangka perjalanan kariernya di bulu tangkis bisa membawanya sejauh ini. Padahal, kali pertama bertugas di ajang Porseni Surabaya atas ajakan kawannya tadi, dia deg-degan dan tidak percaya diri. ”Takut mengambil keputusan masuk atau keluar,” kenang Lia.

Tapi, perlahan dia mulai menikmatinya. Penugasannya pun kian beragam dan berjenjang. Hingga istri Ali Hidayat itu akhirnya dipromosikan mengikuti kursus wasit tingkat provinsi pada 2000.

”Ketika itu saya juga masih honorer di SDN Gunungsari 5. Tapi, setelah itu, saya mundur karena menikah,” lanjut Lia yang kembali mengajar pada 2001 di SDN Ketintang 3, Surabaya.

Pada 2005, dia mengikuti akreditasi di Asosiasi Bulu Tangkis Asia dan setahun kemudian mendapatkan sertifikat BA Accredited. Sedangkan BWF Accredited diperoleh pada 2015. Dua tahun berselang, sertifikat wasit badminton tertinggi, BWF Certificated, didapat saat dihelatnya Piala Sudirman di Gold Coast, Australia.

Pengalamannya memimpin pertandingan pun kian beragam. Selain Piala Sudirman 2017, dia pernah bertugas di Piala Thomas-Uber 2006 di Tokyo (Jepang), Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang, dan Piala Sudirman 2015 di Dongguan (Tiongkok). Juga beberapa rangkaian turnamen besar seperti Indonesia Open Superseries 1000 dan Denmark Open Superseries 1000.

Puncaknya adalah Olimpiade Tokyo 2020. ”Sebelum berangkat (ke Tokyo), saya harus menjalani prosedur swab test selama tujuh hari beruntun. Alhamdulillah, hasilnya negatif terus,” kata Lia.

Dukungan dari Kepala SDN Sawunggaling 1 Sri Kis Untari, Dinas Pendidikan Kota Surabaya, dan Pemerintah Kota Surabaya membuatnya bisa bertugas di pesta olahraga empat tahunan terakbar di dunia tersebut dengan tenang. Begitu pula support dari KONI Surabaya dan Pengkot PBSI Surabaya.

”Saya berharap Lia tidak hanya mengembangkan kompetensinya menjadi wasit di tingkat internasional, tapi juga mengimplementasikan ilmunya kepada siswa-siswi di SDN Sawunggaling 1,” kata Sri.

Di sela kesibukan Olimpiade, Lia tetap menjalankan tugas sebagai guru. Jadwalnya disesuaikan dengan jadwal dia bertugas di lapangan yang terbagi atas dua sif.

”Kalau pas tugas pagi, ya ngajarnya sore. Kalau pas wasit jadwal sore, ya aku ngajarnya pagi,” jelas Lia yang di Pengkot PBSI Surabaya menjabat Kabid pertandingan dan perwasitan.

Beruntung, waktu di Surabaya lebih lambat dua jam daripada Tokyo. Kalau sore, misalnya, dia mengajar pukul 20.30 waktu Tokyo, di Surabaya masih pukul 18.30. ”Atau, saya kasih soal latihan daring aja kalau nggak bisa vidcon (video conference),” jelasnya.

Lia kini sudah kembali ke tanah air. Tapi, dia masih akan menjalani karantina hingga 12 Agustus. Baru sesudahnya dia bisa pulang ke rumahnya di kawasan Wonokitri, Gunungsari, Surabaya, untuk menumpahkan kerinduan kepada keluarga.

”Ingin kumpul dengan keluarga, ke sekolah, dan bisa mengajar anak-anak lagi,” katanya. (*/c19/ttg)