PARIS– ’’Laporan ini adalah kode merah bagi kemanusiaan.’’ Pernyataan itu dibuat oleh Sekjen PBB Antonio Guterres untuk menanggapi laporan Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang dikeluarkan Senin (9/8). Dipaparkan bahwa suhu bumi lebih hangat 1,1 derajat Celsius daripada level praindustri.

Pada 2030, angkanya diperkirakan lebih tinggi 1,5 derajat Celsius daripada era praindustri. Itu satu dekade lebih cepat dari proyeksi tiga tahun lalu terkait pemanasan global. Pemanasan bumi harus tetap di bawah 1,5 demi menghindari dampak yang lebih buruk. Saat ini pun, es di kutub utara mulai mencair. Bencana banjir, longsor, dan kebakaran hutan silih ganti terjadi di berbagai belahan dunia.

’’Kita hanya punya nol tahun untuk menghindari perubahan iklim yang berbahaya,’’ tegas Michael E. Mann, salah seorang penulis utama laporan IPCC tahun 2001, kepada CNN. Dia menegaskan bahwa seluruh pihak harus bergerak cepat dari sekarang dengan mengurangi emisi gas rumah kaca sembari menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer.

Tidak perduli seberapa agresifnya manusia menurunkan polusi karbon, ambang batas pemanasan global itu akan terlampaui juga pada 2050. Meski demikian, setidaknya jika berusaha keras sejak sekarang, perkiraan tersebut tidak akan datang lebih cepat.

Guterres menginginkan hal serupa. Menurut dia, jika seluruh kekuatan digabungkan, bencana iklim bisa dicegah. ’’Tetapi, seperti yang dijelaskan oleh laporan hari ini, tidak ada waktu untuk menunda dan tidak ada ruang untuk alasan,’’ tegasnya.

Laporan itu dirilis hanya 90 hari sebelum konferensi perubahan iklim ke-26 (COP26) digelar. Guterres berharap para pemimpin negara dan semua pemangku kepentingan memastikan konferensi tersebut sukses dan mencapai kata sepakat.

Dalam laporan IPCC dipaparkan bahwa suhu lima tahun terakhir adalah yang terpanas sejak pencatatan pada 1850. Tingkat kenaikan permukaan air laut mencapai tiga kali lipat dibanding 1901–1971. ’’Sudah jelas bahwa selama beberapa dekade ini iklim bumi berubah dan peran manusia pada sistem iklim tersebut tidak terbantahkan,’’ tegas Valerie Masson-Delmotte, salah seorang pakar di IPCC lainnya.

AS, Yunani, dan Turki saat ini tengah merasakan dampaknya. Kebakaran semak yang merambat ke permukiman terjadi di tiga negara tersebut. Api di Turki bisa terkendali karena adanya hujan deras di beberapa titik kebakaran. Namun, keberuntungan tidak berpihak pada Yunani dan AS. Kebakaran justru kian luas.

Sekitar 2 ribu penduduk Evia terpaksa harus mengungsi karena kebakaran belum terkendali di pulau terbesar kedua Yunani itu. Sebagian besar hutan pinus di wilayah tersebut sudah menjadi abu. Permukiman penduduk mulai dilahap api satu per satu. Angin kencang membuat proses pemadaman kian sulit dilakukan.

Sebanyak 17 pesawat dan helikopter pemadam dikerahkan ke Evia. Tapi, tidak ada tanda-tanda api bakal padam dalam waktu dekat. Pemerintah Yunani dan pejabat lokal terdampak meminta bantuan. Prancis, Jerman, dan Inggris merespons dengan mengirimkan pesawat dan tim pemadam.

Yunani memang mengalami gelombang panas terburuk tahun ini. Suhu di negara tersebut mencapai 45 derajat Celsius. Itu ditengarai jadi pemicu kebakaran.

Nasib serupa dialami California, AS. Titik kebakaran yang dinamai Dixie Fire itu berkobar sejak 25 hari lalu. Itu menjadi titik api terbesar kedua dalam sejarah California. Area yang terdampak kobaran api mencapai 187.562 hektare dan hanya 21 persennya yang telah berhasil dikendalikan. Yang lebih besar dari Dixie Fire adalah titik api bernama August Complex Fire. Dia membakar lebih dari 404.700 hektare lahan pada Agustus 2020.

Setidaknya 404 bangunan dilahap oleh Dixie. Sebanyak 13.800 bangunan lainnya terancam. Mayoritas pusat Kota Greenville kini menjadi abu. Itu adalah kota tambang tua yang terletak 257 kilometer di utara Sacramento. ’’Kami tahu hujan kurang dan kebakaran bisa terjadi, tapi kami tidak menyangka bakal ada monster seperti ini,’’ ujar Kesia Studebaker, salah seorang penduduk, seperti dikutip Associated Press. Hingga kini penyebab awal kebakaran tersebut masih dalam penyelidikan. (sha/c6/bay)