BALIKPAPAN- Kondisi pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai membuat realisasi pendapatan asli daerah (PAD) tahun ini dan target tahun depan masih sulit diprediksikan.

Sebelumnya diwartakan, jika target tahun ini tercapai, maka tahun depan PAD Kota Balikpapan tahun depan bisa di angka Rp 850 miliar.

Sekretaris Daerah (Sekda) Sayid MN Fadly mengatakan, target Rp 850 miliar tahun depan rasional jika kondisi Covid-19 Balikpapan berakhir di tahun depan. “Jika tidak, maka PAD Rp 850 miliar akan sulit dicapai. Pasalnya, segala kebijakan menekan angka penularan pandemi Covid-19 berdampak pada menurunnya ekonomi di Balikpapan,” katanya, Minggu (8/8).

Menurutnya, kondisi saat ini penerimaan melambat imbas berlakunya PPKM. Ia mencontohkan bagaimana hotel kehilangan banyak pengunjung dan restoran juga sepi pelanggan. “Penyebabnya, karena kebijakan yang membatasi gerak masyarakat beraktivitas dan berkerumun,” tuturnya.

Sepanjang normal realistis, ia perkirakan target tahun ini positif dan tahun depan bisa di angka tersebut. “Cuma kalau dia tidak normal yah agak susah. Pastilah karena banyak pembatasan-pembatasan. Makanya kita berharap mudah-mudahan tahun ini bisa cepat berakhir pandemi itu,” katanya.

Ia juga menyampaikan, bila kondisi tahun depan Balikpapan tetap belum selesai menangani Covid-19, maka langkah yang diambil bisa dengan mengurangi beberapa program yang tidak masuk skala prioritas.

“Usulan banyak, bahkan sangat banyak. Kita mencoba kegiatan yang prioritas lebih kita utamakan. Yang kita anggap prioritas tapi tidak super (prioritas) itu bisa delay dulu,” kata dia.

Selain itu, Fadly juga menerangkan sembari mengurangi defisit anggaran, bisa jadi akan ada dana transferan dari pusat. Di mana defisit Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) maksimal 6 persen.

“Tapi ketika kita akomodasi, pendapatan kita terbatas. Itulah tugas kita bagaimana memverifikasi seluruh kegiatan agar defisitnya sesuai ketentuan maksimal 6 persen,” sambungnya.

Adapun target PAD tahun ini sebesar Rp 652 miliar. Realisasi hingga Juli mencapai 52 persen atau sekitar Rp 330 miliar. (aji/ms/k15)