Banyak lokasi wisata alam tersembunyi yang hanya diketahui segelintir orang. Salah satu ekowisata yang menarik perhatian ialah Kampung Nelayan Berdasi.

 

Wisata di sini menyuguhkan konsep pemancingan air asin dan menjadi satu-satunya di Kaltim. Sayangnya, tempat rekreasi ini muncul di tengah pandemi, sehingga belum banyak warga yang tahu keberadaannya.

Posisi Kampung Nelayan Berdasi persis berada di kawasan permukiman warga Salak Oseng, Kariangau, Balikpapan Barat. Pengelola kawasan rekreasi Kampung Nelayan Berdasi, Murdianto Handoko menyebut, ide pembangunan tempat liburan itu berawal dari keinginan mengubah image kawasan di sana karena penduduknya yang terkenal hidup sederhana, rata-rata mereka berprofesi sebagai nelayan.

"Ya ini kan baru satu setengah tahun ya. Kami mulai pelan-pelan membuat tanggul," ujar Koko, Sabtu (31/7).

Pembangunan tempat rekreasi ini menyiapkan lahan sekitar 2 hektare yang dibagi menjadi dua area. Dua hektare lahan itu dikeruk menjadi kolam pemancingan. Satu area dengan kedalaman mencapai 2 meter sebagai tempat memancing jenis ikan kakap, kerapu, dan jenis ikan laut lainnya. Kemudian satu area berukuran sekitar 100 x 100 meter sebagai tempat proses desalinasi ikan air tawar menjadi ikan air asin. Semisal ikan nila.

Kemudian ada gazebo yang bisa menampung sekitar 100 orang dalam sekali pertemuan serta menambahkan semacam gazebo terapung berkapasitas delapan orang. "Konsepnya memang anti-mainstream. Yakni memancing di tempat pemancingan, namun rasanya seperti memancing di laut," katanya.

Pria yang kerap disapa Koko itu menyebut keberadaan Kampung Nelayan Berdasi disambut baik masyarakat sekitar. Kerja sama dengan warga, setiap ikan tangkapan warga sehabis melaut, bisa dijual kepada mereka dengan harga yang lumayan. "Kita hargai Rp 40 ribu per kilogram. Tapi, yang masih hidup kita taruh di kolam pemancingan," ujarnya.

Sementara itu, selain potensi pariwisata dan bisnis, Koko menyebut keberadaan tempat rekreasi itu juga cocok sebagai tempat edukasi ekologi biodiversitas. "Ke depan, kita akan mengembangkan tempat ini untuk para musisi. Kita ada sound system. Ini juga lagi pengembangan untuk wisata susur sungai. Kan banyak mangrove juga. Bekantan juga banyak," ucap dia.

Selain itu ada hal menarik lainnya, ketika sampai di sana bagi wisatawan yang datang untuk memancing atau hanya sekadar berkunjung akan dipinjamkan dasi berwarna oranye dengan lambang kail.

“Jadi, dasi itu ada filosofinya. Mereka (nelayan) juga bisa berpikir sama seperti orang-orang berdasi (pejabat) pada umumnya,” tutupnya. (jo/ms/k15)