Akselerasi vaksinasi merupakan kunci perbaikan ekonomi. Menurut Bank Indonesia, jika kasus Covid-19 terkendali sejak awal, maka ekonomi tumbuh positif meski di tengah pandemi.

 

SAMARINDA-Tren perbaikan ekonomi Kaltim diprediksi berlanjut pada triwulan ketiga 2021, setelah tumbuh 5,67 persen di triwulan dua. Sebelumnya, ekonomi Kaltim terjerembap resesi setelah minus dalam empat triwulan terakhir. Sepanjang tahun lalu misalnya, mulai triwulan dua hingga triwulan empat, ekonomi Kaltim masing-masing minus 5,35; 4,54; dan 2,83 persen. Sementara triwulan satu 2021, juga minus 2,96 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, keyakinan bahwa perekonomian Kaltim pada triwulan III/2021 tumbuh disebabkan beberapa faktor. Seperti, membaiknya kinerja lapangan usaha utama di provinsi ini karena permintaan tinggi dari negara mitra dagang. Yaitu, pertambangan dan industri pengolahan. Kinerja ekspor sektor ini diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya seiring peningkatan permintaan Tiongkok, India, dan Jepang.

Permintaan batu bara dari negara-negara tujuan alternatif, seperti Vietnam, Taiwan, dan Korea, diprediksi turut mendorong kinerja ekspor lebih baik lagi. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan II/2021, lapangan usaha pertambangan dan penggalian tumbuhan positif sebesar 5,58 persen. (Selengkapnya lihat grafis). Kinerja positif industri pengolahan migas dan bahan bakar nabati (CPO) juga diprediksi berdampak baik tiga bulan ke depan. Selain itu, lanjut Tutuk, berlanjutnya realisasi anggaran bantuan ekonomi dan kesehatan masyarakat diharapkan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di triwulan ketiga.

Serta dimulainya proyek-proyek belanja modal yang akan mendorong kinerja konsumsi pemerintah. Tidak kalah penting, lanjut dia, momentum perbaikan juga dipengaruhi penanganan pandemi Covid-19 dan distribusi vaksin yang semakin baik. Menurutnya, penanganan Covid-19 sangat bergantung pada pada suksesnya vaksinasi. Sebab, vaksinasi dan disiplin dalam penerapan protokol Covid-19 merupakan kondisi prasyarat bagi proses pemulihan ekonomi. Dia menegaskan, akselerasi vaksinasi merupakan kunci perbaikan ekonomi. Tingginya vaksinasi juga akan membawa Kaltim kepada angka pertumbuhan ekonomi yang positif.

“Sebenarnya, kunci utama perbaikan ekonomi tetap pada penanganan dan kedisiplinan masyarakat dalam pengendalian Covid-19. Sejak awal, kalau asumsinya Covid-19 bisa lebih dikendalikan, kami memperkirakan ekonomi tetap positif,” tuturnya kepada Kaltim Post, Minggu (8/8). Ekonom ini mengungkapkan, jika angka kasus konfirmasi positif Covid-19 terkendali, pemerintah bisa saja mencabut larangan bepergian, atau menghapus aturan lainnya yang menghalangi mobilitas masyarakat. Dengan demikian, pergerakan sektor-sektor usaha di Kaltim juga bisa semakin cepat berputar dan tumbuh. “Kami selalu bilang bahwa perkembangan Covid-19 menjadi game changer,” sebutnya.

Diakui Tutuk, tren perbaikan konsumsi rumah tangga selama ini sedikit tertahan karena kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat. Walau demikian, menurunnya konsumsi rumah tangga imbas pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) tidak berpengaruh besar terhadap ekonomi Kaltim. Sebab, penopang utama ekonomi daerah ini masih berbasis ekspor.

Diketahui, struktur PDRB Kaltim saat ini masih didominasi oleh lima lapangan usaha utama. Yaitu pertambangan dan penggalian (44,74 persen), industri pengolahan (18,1 persen), konstruksi (8,5) persen, pertanian, kehutanan, dan perikanan (8,43 persen), serta perdagangan besar dan eceran (6,13 persen). Lima lapangan usaha tersebut memberikan andil terhadap tumbuhnya ekonomi Kaltim dalam dua triwulan terakhir. Walaupun, di sisi lain ada tiga lapangan usaha yang mengalami penurunan kinerja imbas pandemi sehingga memicu tren negatif pertumbuhan ekonomi Kaltim. Yaitu lapangan usaha konstruksi memberikan andil negatif sebesar 0,06 persen, real estate (0,01 persen), serta pengadaan listrik dan gas (0,01 persen).

Terkait usaha konstruksi yang memberikan andil negatif, Ketua Umum Dewan Pengurus Daerah (DPD) Gabungan Perusahaan Konstruksi Nasional Indonesia (Gapeksindo) Kaltim Slamet Suhariadi mengatakan, merupakan hal wajar. Sebab, tahun ini lelang proyek baru dilakukan pada Juli lalu, yang menandakan pekerjaan baru bisa dilakukan sekitar September atau triwulan ketiga tahun ini.

“Saat ini kinerja memang sangat lamban, dana subsidi dari provinsi ke kabupaten/kota sama sekali belum terserap. Otomatis itu menjadi masalah kita,” ujarnya pekan lalu. Dia menjelaskan, di provinsi juga lelang baru dimulai pada Juli. Sehingga, faktor utamanya dana subsidi konstruksi belum terserap, serta lambannya lelang proyek tahun ini pada APBD. Tahun-tahun sebelumnya, saat memasuki triwulan ketiga seperti ini sudah 30–40 persen dana subsidi konstruksi terserap, namun saat ini masih sangat lamban masih 0 persen.

Kinerja konstruksi bisa memberikan andil positif pada perekonomian Kaltim, bergantung kapan mau dimulainya proyek. Pada awal tahun, memang tidak ada proyek sehingga wajar andilnya negatif. “Banyak masalahnya tahun ini, bahkan lebih sulit dibandingkan pada 2020,” jelasnya.

Menurut Slamet, jika Juli baru mulai lelang maka bisnis ini seharusnya sudah bisa tumbuh pada triwulan ketiga tahun ini. Pihaknya optimistis, pada September bisnis konstruksi mulai booming, sehingga bisa memberikan andil positif pada perekonomian triwulan ketiga 2021. Anggaran mulai terserap pada September, proyek mulai berjalan, bisnis turunannya juga meningkat.

“Kita belum tahu kendala subsidi konstruksi tahun ini belum terserap di kabupaten/kota, masalahnya apa kami belum menemukan. Hal inilah yang semakin memperburuk keadaan kita. Sejak awal tahun hingga pertengahan ini masih nihil,” tuturnya. (ctr/riz/k15)