BALIKPAPAN–Pasien yang terpapar virus corona dengan penyakit penyerta atau comorbid, disarankan menjalani isolasi terpusat atau isoter. Baik tanpa gejala atau orang tanpa gejala (OTG), maupun pasien dengan gejala ringan. Apabila menjalani isolasi mandiri, dikhawatirkan mengalami pemburukan dan tidak terpantau oleh tenaga kesehatan (nakes).

Ketua Satgas Covid-19 Letjen TNI Ganip Warsito menyampaikan, keterlambatan penanganan nakes terhadap pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri, menjadi penyebab tingginya angka kematian saat ini. Sehingga dirasa perlu menyiapkan fasilitas isoter. Untuk wilayah Kaltim, disediakan sebanyak 4.434 tempat tidur (TT). (selengkapnya lihat grafis).

“Ini saya update melalui pangdam (Panglima Kodam VI Mulawarman). Atas saran dari Pak Gubernur (Kaltim),” katanya saat berkunjung ke Balikpapan dua hari lalu. Fasilitas isoter terbanyak berada di Balikpapan. Disiapkan sebanyak 2.670 tempat tidur di 22 lokasi. Seperti di Embarkasi Haji Batakan, Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, dan sejumlah hotel. Hanya Paser yang tidak menyediakan fasilitas isoter. Ganip yang juga menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini menerangkan, syarat utama pasien untuk menjalani isoter adalah pasien kategori OTG dan gejala ringan, yang memiliki usia lebih dari 45 tahun.

Karena fatality rate dari kasus kematian pasien Covid-19 pada usia tersebut. Terutama pasien yang usianya di atas 60 tahun yang memiliki comorbid. “Rata-rata terbanyak adalah diabetes dan darah tinggi. Jadi kalau ada yang punya dua penyakit itu, walaupun OTG, langsung masuk isoter saja. Supaya tidak terjadi pemburukan dan terlambat penanganan,” pesan dia. Syarat lainnya, rumah dan lingkungan pasien tidak memenuhi syarat untuk isoman. Serta ada anggota keluarga yang usia lanjut atau comorbid.

Menurut dia, jika tetap menjalani isolasi mandiri di rumah, sangat rentan menularkan keluarganya yang berada di rumah. “Dan bisa menyebarkan Covid-19, hingga berakibat fatal,” tutup dia. Kepala Bidang (Kabid) Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Alexander Ginting menambahkan, keuntungan isoter adalah nakes bisa memantau dan memonitor pasien dengan kategori OTG dan gejala ringan, apabila mengalami pemburukan. Apalagi pasien yang menjalani isolasi mandiri, sering lupa dengan comorbid-nya. Karena tersandera dengan hasil tes yang menunjukkan terpapar virus corona.

“Jadi sebenarnya, yang membuat mereka banyak masuk ke UGD dan antre di rumah sakit, adalah comorbid yang tidak terpantau. Karena mereka takut ke rumah sakit. Sehingga obat diabetes dan hipertensi, itu tidak dikonsumsi,” ucapnya.

Karena itu, kebijakan pemerintah saat ini, dikatakan Ginting, mengawasi pasien isolasi mandiri. Dengan harapan, mampu menurunkan angka kematian akibat terpapar Covid-19, yang cukup tinggi. Dengan jumlah kasus kematian harian sekitar 1.800 kasus. Sehingga, agar pengawasan menjadi maksimal, sebaiknya pasien yang menjalani isolasi mandiri itu diarahkan menjalani isoter. Dan obat pasien terkonfirmasi positif, bisa terjamin.

Selain itu, perkembangan kesehatan pasien, juga bisa dipantau dengan baik. Apabila terjadi pemburukan, dapat segera ditangani. “Pemburukan ini terjadi jika saturasi (oksigen) di bawah 95 persen. Dan comorbid tidak terkontrol. Makanya, pengawasan melalui isoter ini adalah salah satu strategi kita, supaya tingkat kematian itu menurun,” pungkas Ginting. (kip/riz/k8)

 

 

 

Lokasi Isolasi Terpadu di Kaltim

 

Daerah Jumlah Tempat Tidur

Balikpapan 2.670

Kukar 428

Kubar 250

Samarinda 223

Penajam Paser Utara 174

Berau 170

Bontang 90

Mahakam Ulu 80

Sumber: Satga Covid-19