TANJUNG REDEB – Ketua DPRD Berau Madri Pani menyoroti harga polymerase chain reaction (PCR) yang terlalu tinggi di Bumi Batiwakkal. Ini sama saja membebani masyarakat. Madri menegaskan, harga yang dipatok mencapai Rp 1,5 juta. Tentu harga ini sangat tinggi. Terlebih, harga ini lebih mahal dibandingkan harga tiket pesawat menuju Balikpapan. Menurutnya, sesuai edaran dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) nomor HK.02.02/1/3713/2020, batasan tertinggi untuk pemeriksaan RT-PCR termasuk pengambilan swab Rp 900 ribu.

“Memang ada yang Rp 900 ribu, tapi harus menunggu tiga hari,” katanya, Minggu (8/8). Ia mempertanyakan, apakah alat yang digunakan berbeda, sehingga harganya juga berbeda. Ia menegaskan, jangan terlalu memanfaatkan situasi saat ini untuk mengambil keuntungan dari masyarakat. 

“Inilah yang membuat masyarakat sulit untuk percaya,” ujarnya. Madri mengatakan, klinik swasta yang melakukan PCR juga harus melakukan evaluasi, kenapa bisa tiga hari, ini yang terkadang membuat masyarakat tidak percaya. Jika semua disamaratakan untuk harga dan waktu keluarnya hasil swab, kata dia, tingkat kepercayaan masyarakat akan meningkat.

“Satgas, bupati dan wakil bupati, TNI Polri, sudah bekerja maksimal. Jangan sampai, hanya karena masalah PCR, menurunkan rating kepercayaan masyarakat,” tegasnya.

Ia juga mempertanyakan, mengenai alat PCR di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai yang belum juga difungsikan hingga saat ini. Ia mengatakan, jika pihak Dinas Kesehatan (Diskes) menemui kendala, segera melaporkan kepada bupati, dan duduk bersama mencari solusi dari kendala tersebut.

“Jika kendalanya operator yang tidak ada, kita bisa datangkan orang dari luar. Atau apa kendalanya,” ujarnya.

Ia juga meminta agar SOP pelayanan di rumah sakit pelat merah tersebut bisa dibenahi, hal ini bertujuan untuk membangun kepercayaan masyarakat Berau. Madri Pani tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang kembali.

“Tentu, saya tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu, ada keluarga yang memaksa mengambil pasien terulang kembali,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Diskes Berau Iswahyudi menuturkan, untuk pemerataan harga sudah dilakukan oleh pihak klinik swasta yang melakukan PCR. Yakni berpatokan harga Rp 900 ribu. Dan hasil keluar sehari kemudian.

“Sudah dilakukan,” katanya kepada Berau Post. Ia mengatakan, terkait perbedaan harga dan waktu hasil keluar, Dijelaskannya, hal ini kemungkinan karena strategi bisnis untuk menutupi biaya operasional. Sebab, di tempat lain, setahunya, juga seperti itu. 

“Pemeriksaan PCR memang butuh waktu lama. Yakni 6–8 jam,” ujarnya. Terkait masalah alat PCR di RSUD dr Abdul Rivai, Iswahyudi mengatakan, memang sudah ada alatnya. Saat ini sedang dilakukan quality control. Jika sudah dinyatakan, hasil laboratorium sama dengan hasil lab rujukan atau Litbangkes, maka akan dikeluarkan surat persetujuan dan user name-nya.

“Ada (operatornya) dan sudah dilatih juga. Penanggung jawabnya dokter spesialis patologi klinis,” jelasnya. (hmd/far/k16)