SEMUAorang tahu hari perpisahan itu akan tiba. Termasuk fans Valentino Rossi di Indonesia. Bila diizinkan meminta, mereka ingin keputusan itu ditunda satu atau dua tahun lagi. Sebab, mereka ingin menyaksikan Rossi membalap di GP Indonesia. Apalagi mimpi itu sejatinya hampir menjadi kenyataan.

Sebab, pembangunan Sirkuit Mandalika di NTB kabarnya sudah mencapai 80 persen. Sirkuit itu rencananya menjadi tuan rumah balapan MotoGP tahun ini. Namun, lantaran pembangunan tak kunjung rampung, jadwal itu kembali diundur.

Dan, kini, mimpi tersebut musnah sudah. Sama seperti fans Rossi lainnya, Pangeran Arab Saudi Abdulaziz bin Abdullah Al Saud sebagai pemilik perusahaan minyak Aramco yang telah mengakuisisi seluruh lini bisnis VR46 dengan nilai fantastis Rp 2,5 triliun secara diam-diam telah merayu The Doctor untuk tetap membalap tahun depan.

Namun, rayuannya gagal. Rossi tahu, ini saat yang tepat untuk benar-benar berhenti. “Pada akhirnya, di semua olahraga, hasil akhir (balapan, Red) adalah yang terpenting. Aku yakin ini adalah keputusan yang tepat,” kata Rossi kukuh.

Balapan motor dunia selalu identik dengan Rossi. “Ketika kita bertemu seseorang di sudut dunia ini dan dia tak mengenal ajang balapan motor itu, sebut saja nama Valentino Rossi dan dia akan paham,” ucap rider Pramac Ducati Johann Zarco pada jumpa pers jelang GP Styria.

MotoGP jelas kehilangan sosok legendaris yang selama 26 tahun terakhir mampu menarik semua kalangan untuk datang ke sirkuit untuk menyaksikan balapan. Sebuah lubang besar akan ditinggalkan setelah Rossi benar-benar finis di balapan terakhir musim ini di Valencia. “Akan sangat sulit untuk mengulangi sejarah Valentino Rossi di masa yang akan datang,” kata juara bertahan MotoGP Joan Mir. Ya, sesulit mewujudkan impian fans Indonesia menyaksikan MotoGP di Tanah Air seperti 25 tahun lalu. (c13/cak/jpg/ndy/k16)