YOKOHAMA – Koleksi emas sepak bola di ajang Olimpiade yang dipunyai timnas Brasil dan Spanyol setara. Keduanya baru sekali menang. Spanyol di Olimpiade 1992, sedangkan Brasil di Olimpiade 2016.

Kesamaan keduanya bukan hanya berhenti di jumlah medali emas sepak bola yang dimenangi. Catatan lain soal keidentikan kedua timnas adalah sama-sama memenangi podium tertinggi ketika jadi tuan rumah.

Karena itu, pada final sepak bola Olimpiade 2020 Tokyo malam ini (7/8) di International Stadium Yokohama untuk kali pertama, kedua tim berpeluang meraup emas tidak di tanah airnya sendiri.

Jelang laga final (6/8), pelatih timnas Brasil Andre Jardine tanpa ragu menyebut Spanyol dan klub Catalan FC Barcelona (FCB) sebagai role model. Padahal, kalau menengok koleksi trofi, jelas Brasil unggul atas Spanyol.

Di level Piala Dunia, misalnya. Brasil sudah lima kali menang. Sementara itu, Spanyol baru sekali. Lalu, di level kontinen, Spanyol tiga kali mengangkat trofi Euro. Brasil sendiri di ajang sub kontinen Amerika Latin, sembilan kali menang Copa America. ”Dominasi Spanyol dan FCB bersama Pep (Guardiola) adalah inspirasi bagiku menemukan metode pelatihan,” papar Jardine kepada ESPN.

Pelatih 41 tahun itu melanjutkan, dominasi penguasaan bola yang mendikte lawan ala Pep saat FCB (2008–2012) memang merevolusi permainan sepak bola dunia secara keseluruhan. Cara bermain dengan berlama-lama menguasai bola, menciptakan peluang sebanyak-banyaknya, dan akurasi passing yang tinggi seolah kini coba diadaptasi semua tim di dunia.

Padahal, menurut pandit The Athletic Michael Cox, tak semua tim punya fleksibilitas seperti FCB era Pep. Jardine sama sekali tak memberikan aplaus untuk Brasil yang menang Piala Dunia 2002. Bahkan, tim yang meraih emas di Olimpiade 2016 juga menang Copa America 2019.

”Brasil memang punya bintang-bintang yang secara individual mentereng dalam diri Neymar, Marcelo, Casemiro, atau Alisson. Namun, individu-individu itu masih gagal menunjukkan energi besar secara kolektif seperti yang ditunjukkan Italia saat juara Euro 2020,” tulis pandit Felipe Cardenas di ESPN.

Sebetulnya kondisi Spanyol juga tak lebih baik daripada Brasil di final tersebut. Meski dihuni beberapa nama jebolan Euro 2020, malah nama-nama nonskuad Euro yang mencuri perhatian di fase knockout Olimpiade.

Penyerang Wolverhampton Wanderers yang dipinjamkan ke SD Huesca Rafa Mir mencuri perhatian di perempat final dengan hat-trick di babak perpanjangan waktu. Mir membawa La Rojita (julukan Spanyol) menang 5-2 atas Pantai Gading (31/7)

Kemudian, wide attacker Real Madrid Marco Asensio giliran yang cemerlang di semifinal. Masuk sebagai pemain pengganti, Asensio mencetak gol kemenangan lima menit sebelum babak tambahan usai ke gawang Jepang (3/8).

Pelatih Spanyol Luis de la Fuente kepada Marca berkata, final lawan Brasil ini menjadi pertaruhan kariernya sebagai pelatih. Dan, yang membuat De la Fuente kian bersemangat, status lawan yang dihadapi adalah juara bertahan.

”Brasil adalah tim dengan karakter berbeda dari kami yang lebih banyak menguasai bola. Brasil cenderung bermain direct dan membangun serangan cepat,” ujar De la Fuente kepada Marca. (io/c13/dra)

Line up ---

Brasil (4-2-3-1): 1-Santos (g); 6-Arana, 3-Carlos, 15-Nino, 13-Alves (c); 8-Guimaraes, 5-Luiz; 10-Richarlison, 20-Claudinho, 7-Paulinho; 11-Antony

Pelatih: Andre Jardine

 

Spanyol (4-3-3): 1-Simon (g); 3-Cucurella, 4-Torres, 12-Garcia, 18-Oscar; 6-Zubimendi, 16-Pedri, 8-Merino; 7-Asensio, 11-Oyarzabal (c), 19-Olmo

Pelatih: Luis de la Fuente

 

Wasit: Chris Beath (Australia)

Stadion: International Stadium Yokohama, Yokohama

Asian Handicap: 0:0