Perusda Aneka Usaha dan Jasa Bontang terbelit masalah klasik. Kinerja perusahaan masuk kategori sulit bangkit.

 

BONTANG - Berdasarkan laporan keuangan 2020 dari auditor independen yang diperoleh Kaltim Post disebutkan, ekuitas mengalami penurunan. Pada 2020 tercatat ekuitas dengan nominal Rp 23.423.496.206. Melorot dibandingkan satu tahun sebelumnya mencapai Rp 25.532.751.878.

Dewan Pengawas Perusda AUJ Hariyadi mengatakan, penurunan ekuitas itu lantaran utang yang terjadi di periode sebelumnya, sehingga angkanya selalu lebih besar daripada pendapatan yang diterima.

“Jika itu dihitung berdasarkan akumulasi periode sebelumnya, otomatis terus berkurang ekuitasnya. Sebab, ada utang warisan sebelumnya. Apalagi modal dari pemkot sudah habis sejak beberapa tahun lalu,” kata Hariyadi.

Berdasarkan neraca, sebenarnya pendapatan Perusda AUJ meningkat tahun lalu. Angkanya mencapai Rp 2.686.122.145. Dibandingkan periode 2019 yakni Rp 1.010.007.330. Pendapatan terbesar bersumber dari persewaan kapal roro sejumlah Rp 1,1 miliar.

Sementara pendapatan lain didapat dari LED megatron, penjualan air, parkir Ramayana, bagi hasil BUP, pengangkutan, solar SPBN, keagenan kapal, dan sewa matras.

Namun, beban operasional juga meningkat di 2020, angkanya Rp 2.518.999.328. Padahal setahun sebelumnya hanya Rp 1.859.246.586. Peningkatan mencakup gaji direktur dan karyawan, honor badan pengawas, pemberian THR, dan sewa kendaraan.

Akan tetapi, saat ditanyakan nominal keuntungan yang didapatkan, ia belum bisa memberikan keterangan. “Keuntungan ada tapi totalnya tidak hapal. Kontribusinya ada. Dari Pelindo dan penyewaan kapal roro juga ada untungnya. Kita setor ke kas daerah setelah dipotong pembiayaan karyawan,” ucapnya.

Jika permasalahan lama tadi tidak disertakan, treknya sudah positif. Namun, bila ekuitas masih dikaitkan dengan periode sebelumnya, otomatis terus tergerus. Karena modal dari pemilik saham sudah habis. “Ini yang jadi persoalan. Sampai kapan begini tidak tahu,” tutur dia.

Sebelumnya diberitakan, Kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) mendapat sorotan Wali Kota Bontang Basri Rase. Salah satunya posisi direksi Perusda Aneka Usaha dan Jasa (AUJ) dan anak perusahaannya. Ia menjelaskan, durasi jabatan salah satu BUMD tersebut habis Desember nanti.

“Saya akan rombak total itu. Cari orang yang profesional,” kata Basri.

Disinggung rencana perombakan, ia berjanji tidak akan melakukan intervensi. Aspek kedekatan politik bakal dihindari. Sebab itu, perlu orang yang berkompeten dan profesional yang duduk di posisi tersebut.

Misalnya, Badan Usaha Pelayaran (BUP) akan dicari pensiunan dari Pelindo, KSOP, atau Dirjen Pelabuhan Laut, sehingga punya akses, pengalaman, dan paham di dunia itu. Jika posisi keuangan bakal mengambil dari pensiunan PNS yang masalah regulasi atau perbankan.  “Saya coba urai satu per satu,” pungkasnya. (*/ak/ind/k16)