Rehabilitasi DAS adalah kerja besar sebagai komitmen kepatuhan dan implementasi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. PT Bharinto Ekatama (BEK) sebagai salah satu anak perusahaan dari PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM) telah melakukan penanaman pada lahan Daerah Aliran Sungai sejak 2017 lalu. Penanaman dilakukan di dua lokasi yakni Kawasan Hutan Lindung (HL) Gunung Beratus Kabupaten Kutai Barat dan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hutan Penelitian dan Pendidikan Bukit Soeharto (HPPBS) Pusrehut Universitas Mulawarman Kutai Kartanegara.

Alhasil, tahun ini 39,61% luas area penanaman Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (Rehabilitasi DAS) diserahterimakan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Kawasan seluas 1.190,18 hektare tersebut terletak di HL Gunung Beratus, Kutai Barat.

Dilangsungkan via pertemuan daring pada 24 Juni 2021, upacara serah terima dipimpin Plt Direktur Jenderal PDASHL Ir. Helmi Basalamah MM. Dalam sambutannya Plt Dirjen PDASHL mengucapkan terima kasih, dan mengapresiasi atas pencapaian keberhasilan penanaman Rehabilitasi DAS BEK yang telah dilakukan. “Upaya yang dilakukan BEK ini mendukung pemulihan ekosistem hutan dan pemulihan ekonomi nasional,” ungkapnya.

 

BUKTI KOMITMEN: Plt Direktur Jenderal PDASHL Ir Helmi Basalamah, MM. menunjukkan dokumen serah terima rehabilitasi DAS oleh PT Bharinto Ekatama, dilangsungkan secara daring, 24 Juni 2021.

MENGAPA REHABILITASI DAS?

Sejak 2014, Kementerian LHK di bawah Menteri Siti Nurbaya Bahar mewajibkan pemegang Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) melakukan rehabilitasi DAS. Ketentuan ini semakin dikuatkan dengan lahirnya Peraturan Pemerintah No. 26/2020.
Siapakah pemegang IPPKH? Salah satunya adalah perusahaan tambang batubara yang beroperasi dengan mengusahakan tambang. PT Bharinto Ekatama yang memegang IPPKH Nomor SK.621/Menhut-II/2010 dan SK.946/Menhut-II/2013 merespon kewajiban baru tersebut dengan melakukan konsolidasi di bawah kelompok usaha PT Indo Tambangraya Megah Tbk. Tak memerlukan waktu panjang, Perusahaan menyepakati untuk patuh dan segera mengimplementasikan kebijakan tersebut. Maka tak heran jika pada 2016 perencanaan teknis Rehabilitasi (Rantek) DAS PT Bharinto Ekatama pun dimulai.

Pokok pemikiran Manajemen yang mendasari keputusan ini tak lain adalah komitmen pada tata Kelola perusahaan yang baik dan penerapan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Rehabilitasi DAS dinilai memiliki aspek keberlanjutan yang tinggi dan nyata bukan saja untuk Indonesia, bahkan bagi dunia. Hutan hujan tropis harus dikelola dengan baik agar mampu menopang kehidupan manusia. Sementara sisi kepatuhan adalah bagian dari praktik tata Kelola perusahaan yang baik.

Kepala Teknik Tambang BEK Prayono Suryadi menyatakan, rehabilitasi DAS BEK terbukti memberikan manfaat bagi masyarakat. Program ini merupakan andil signifikan bagi pemulihan lingkungan.

TANTANGAN DAN MANFAAT

Rehabilitasi DAS adalah pekerjaan yang penuh tantangan. Sejak diundangkan, kewajiban ini mendapatkan resistensi dari banyak pihak. Pada tahap pelaksanaan kendala finansial dan teknikal menghadang. Lokasi yang jauh dan terpencil membuat pekerjaan penanaman hampir mustahil. Tantangan keselamatan pekerja seperti medan ekstrim dan ancaman malaria menghadang. Belum lagi masyarakat perambah hutan yang seringkali menentang upaya penanaman kembali lahan kritis.

Di tengah tantangan yang ada, BEK berhasil melaksanakan kewajiban rehabilitasi DAS sebesar 73,37% dari kewajiban yang diberikan pemerintah, termasuk yang telah diserahterimakan tahun ini. Lokasi lain yang siap untuk diserahterimakan dalam waktu dekat adalah di KHDTK- HPPBS Pusrehut Unmul seluas 900 ha. Kawasan ini sangat penting bagi dunia Pendidikan dan Penelitian karena pemangku wilayah ini adalah Pusrehut Universitas Mulawarman yang memberikan arahan dan supervisi ketat, karena institusi ini memikul tanggung jawab penelitian mengenai kehutanan di Kalimantan Timur.

“Rehabilitasi DAS bertujuan memulihkan ekosistem hutan di daerah aliran sungai, dan dalam perjalanannya sekarang dan ke depan terbukti memberikan penguatan dengan keterlibatan masyarakat sekitar lokasi penanaman. Kegiatan penelitian kehutanan pun dapat difasilitasi,” tegas Prayono.

Sisi lain yang menggembirakan adalah banyaknya masyarakat sekitar hutan yang terlibat dalam kegiatan. Baik sebagai tenaga kerja maupun pemasok bibit serta material lain. Teknik pembibitan tanaman yang baik diajarkan, sehingga diharapkan menjadi keterampilan baru yang dapat mereka manfaatkan di masa depan. Partisipasi warga dalam program masyarakat peduli api untuk mencegah kebakaran di area penanaman juga menjadi bentuk edukasi lain yang penting bagi kelestarian hutan.

Rehabilitasi DAS tak berhenti pada kepatuhan semata. Keseriusan melaksanakan program ini oleh pemerintah maupun pemegang IPPKH, berpotensi menunjang aspek pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan dalam spektrum yang luas. BEK sejalan dengan Perusahaan induknya yakni ITM, telah berkomitmen untuk menuntaskan program yang penting bagi masyarakat dan bangsa ini. (waz/rombongan/k9)