Talk show terkait ibu kota negara (IKN) kembali digelar Kaltim Post, hari ini (6/8). Kali ini membahas pertanian Kaltim.

 

BILA padi menguning melambai di sawah, beralasan kiranya bagi sang petani untuk tersenyum bangga. Jerih payahnya selama beberapa bulan akhirnya berhasil. Gabungan faktor-faktor produksi seperti kekayaan alam, tenaga kerja, modal, dan kecakapan telah tergodok menghasilkan lambaian padi menguning itu.

Apa kabar pertanian Kaltim? Sampai kini, kondisi pertanian Kaltim memiliki banyak problematika yang harus diselesaikan. “Gunung permasalahan” itu penting diselesaikan agar harapan ketahanan pangan di Benua Etam menjadi kenyataan. Bukan sekadar angan-angan.

Fakta yang harus disampaikan, sektor pertanian Kaltim jauh tertinggal dibandingkan tiga provinsi di regional Kalimantan. Produksi dan kebutuhan pangan Kaltim tertinggal jauh dibandingkan tiga provinsi lain (Kalsel, Kalteng, dan Kalbar). Bahkan, antara produksi dan keperluan pangan berupa padi, beras, jagung, kedelai, sayuran, dan daging, Kaltim merupakan satu-satunya provinsi yang seluruhnya mengalami defisit.

Tampaklah bahwa program revitalisasi pertanian hanyalah sebuah program minim hasil. Program food estate belum sesuai harapan.

Gabungan faktor-faktor produksi seperti kekayaan alam, tenaga kerja, modal dan kecakapan belum mampu menghasilkan padi, jagung, kedelai, sayuran, dan daging yang mencukupi keperluan masyarakat Kaltim.

Penetapan Kaltim sebagai ibu kota negara (IKN) diperlukan perubahan lanskap kebijakan pertanian. Kedaulatan pangan Kaltim semestinya bisa diwujudkan melihat potensi kewilayahan yang besar.

Pada akhirnya, kerja membangun adalah kerja yang menggembirakan. Apalagi kalau hasil yang dicapai sesuai dengan dana yang dikeluarkan. Tapi banyak proyek di Bumi Etam yang tidak menunjukkan kesesuaian. Bagaimanapun, dengan banyak cacat di sana-sini, penebusan dosa yang paling tepat adalah dengan bekerja dan merevolusi mental.

Isu menarik itu akan dikupas di Kaltim Post Talk Show dengan tema Buka Buku Lumbung Pangan Kaltim pada Jumat (6/8), pukul 15.00–16.00 Wita. Bersama dua narasumber yakni Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda Prof Bernatal Saragih dan Kabag Pembangunan Setda Penajam Paser Utara Nicko Herlambang. (*/rom/k8)