Kalau juara dianggap wajar. Kalau tidak juara, Paris Saint-Germain (PSG) siap-siap saja ”dihabisi” oleh media. Itulah tantangan skuad yang paling sesak pemain bintangnya dalam menghadapi Ligue 1 2021—2022.

  

SEMASA menangani Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino harus menerima kenyataan tidak bisa belanja pemain mahal. Menjalani 11 kali periode bursa transfer (musim panas dan musim dingin), pelatih yang akrab disapa Poche itu hanya membelanjakan GBP 427,48 juta (Rp 8,5 triliun). Atau rata-rata per musim GBP 71,24 juta (Rp 1,42 triliun).

”(Kalau seperti ini terus) Spurs baru bisa juara Premier League sepuluh tahun lagi,” ucap Poche pada musim panas 2019. Entah karena sindiran itu atau tidak, musim itu manajemen Spurs berani mendatangkan pemain mahal atau bernilai GBP 54 juta (Rp 1,07 triliun), Tanguy Ndombele. Sial, Poche tetap gagal membawa Spurs naik level dan malah ditendang empat bulan setelah kedatangan Ndombele.

Musim ini atau mengawali musim penuh pertama bersama PSG, Poche merasakan sesuatu yang tidak pernah didapatkannya selama enam musim di Spurs. Pelatih 49 tahun asal Argentina itu diberi satu per satu pemain mahal meski hanya satu yang berbiaya transfer selangit (Achraf Hakimi). Selebihnya, yakni Sergio Ramos, Gianluigi Donnarumma, dan Georginio Wijnaldum, hanya mengurangi kantong PSG secara gaji karena diboyong dengan free transfer.

Kedatangan mereka membuat Poche memiliki skuad yang secara market value paling mahal sejagat saat ini. Seiring sudah diperkuat oleh Neymar Jr, Kylian Mbappe, Mauro Icardi, Marquinhos, Presnel Kimpembe, dan Marco Verratti, nilai skuad PSG ditaksir mencapai EUR 917,65 juta atau Rp 15,5 triliun. Les Parisiens pun kini berstatus sebagai media darling di pentas sepak bola.

Konsekuensinya, Poche memiliki tantangan lebih berat dalam mengendalikan ego pemain di skuadnya. Persoalan paling krusial Poche adalah meyakinkan Mbappe untuk bertahan di Camp des Loges (markas latihan PSG) sekaligus memupus asa Real Madrid.

”Kabar bahwa dia (Mbappe) mengatakan kepada saya tidak akan memperbarui kontrak (di PSG) adalah tidak benar. Saya tahu dia memiliki kontrak setahun lagi, tetapi saya tetap akan memperlakukan dia seperti memiliki kontrak lima tahun lagi,” beber Poche penuh keyakinan kepada Le Parisien.

Selain Mbappe, tantangan Poche lainnya adalah masalah klasik dalam skuad yang punya opsi melimpah di setiap posisi. Yaitu menentukan starting XI. Mantan entraineur PSG Luis Fernandez melihat dilema Poche dalam memilih starter tak ubahnya lebih sulit ketimbang mengalahkan lawan di lapangan.

Posisi kiper, misalnya. Untuk kiper utama, Poche harus memilih di antara Keylor Navas, Gigio –sapaan akrab Gianluigi Donnarumma, atau Sergio Rico seandainya yang bersangkutan memilih bertahan. Begitu pula bek tengah. Akan muncul satu pertanyaan, siapa yang tergeser dari kedatangan Ramos. Antara Marquinhos atau Kimpembe. Sejauh ini, Poche telah ”memaksa” bek seharga EUR 32 juta (Rp 543,8 miliar) Abdou Diallo lebih menekuni posisi bermain sebagai bek kiri karena tidak ada kesempatan lagi bersaing di posisi bek tengah.

Lini tengah juga pelik karena Gini –sapaan akrab Georginio Wijnaldum – meramaikan persaingan dengan Verratti, Ander Herrera, Danilo Pereira, Julian Draxler, Idrissa Gueye, Rafinha, Leandro Paredes, hingga calon bintang Xavi Simons. Kalau gelandang Manchester United Paul Pogba tiba-tiba bergabung, Poche bakal makin pusing.

”Dia (Poche) harus mencari tahu misalnya mengapa dia memainkan Donnarumma atau memainkan Navas. Si ini dan si itu, semua harus baik-baik saja,” tutur Fernandez dalam kolomnya di L’Equipe. Pria 61 tahun itu sulit membayangkan kalau PSG sampai gagal memenangi Ligue 1 musim ini. (ren/dns)