Sungguh malang nasib Kemat, 50, warga Desa Banyu Urip, Kecamatan Kedamean, Gresik. Maksud hati, ingin mengambil bantuan sosial (bansos) sembako di balai desa setempat. Maklum, di masa pandemi seperti sekarang, bantuan tersebut tentu cukup membantu. Eh, malah dia kehilangan rumah dan seekor sapi. Rabu (4/8), rumahnya ludes dilalap si jago merah.

Tidak hanya satu rumah. Lidah api juga menjulur ke satu rumah lainnya. Dua rumah pun berubah jadi arang. Selain itu, api juga memanggang satu ekor sapi milik Kemat. Kini, keluarga sederhana itupun terpaksa menumpang hidup sementara di rumah tetangganya. ‘’Kasihan sekali Pak Kemat,’’ ujar beberapa warga sekitar.

Dari informasi yang dihimpun, musibah tersebut berawal dari aktivitas bediang atau tempat perapian di kandang sapi milik Kemat. Untuk menghangatkan tubuh ternak peliharaan sekaligus mengusir nyamuk, biasanya warga desa kerap membuat bediang dari sampah, damen, ataupun semak-semak kering.

Nahas, Kemat lupa mematikan bediang tersebut. Sebab,  begitu ada informasi ada pembaguan bansos dari pemerintah, Kemat dan sejumlah warga lain pun  pergi ke balai desa.

“Karena angin begitu kencang, api itu merambat ke sekitar kandang sapi. Dalam waktu cepat, merembet ke rumah. Karena lokasi kandang dekat dengan rumah korban,” kata Kepala UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) Pemkab Gresik Eka Prapangasta.

Jerit dan teriakan warga pun bersahutan. Banyak warga sudah berupaya memadamkan muk api itu dengan peralatan seadanya. Warga pun menginformasikan kebakaran itu kepada UPT Damkar Gresik sekitar pukul 10.05 WIB. Kondisi angin dan cuaca terik, membuat lidah api dengan cepat menyambar bangunan lain. “Api merembet ke dua rumah. Yaitu, milik Pak Kemat dan Pak Sarjono,” terangnya.

Dua mobil PMK dan 5 personil diterjunkan untuk memadamkan api di TKP. Api pun baru bisa dipadamkan setelah dua jam berselang, sekitar pukul 12.15 WIB. “Terkait kerugian materi belum bisa ditaksir. Tentu kasihan pada korban. Tidak ada korban jiwa. Yang kelas, sudah kami sampaikan ke polisi untuk pendalaman lebih lanjut,” kata Eka.

Amuk api di Banyu Urip tersebut menambah panjang daftar kebakaran di Kota Pudak. Selama 2021 saja, UPT Damkar Gresik mencatat total kejadian rescue dan kebakaran mencapai 163 kejadian. Selain faktor kelalaian, kondisi geografis wilayah Gresik yang terik membuat titik api sangat mudah muncul. “Terutama kawasan semak belukar, itu yang paling rawan. Semakin mengkhawatirkan jika lokasinya berdekatan dengan permukiman warga,” ujarnya.

Eka menambahkan, wilayah hot spot (rawan kebakaran) justru berada di kawasan kota dan wilayah selatan. Dia pun berharap masyarakat berhati-hati. Misalnya, tidak membakar sampah rumah tangga atau semak belukar sembarangan. Namanya musibah memang tidak bisa dihindari. Namun, paling tidak diantisipasi dan diwaspadai. ‘’Penyebab terbesar lain adalah korsleting listrik,” katanya. (jps)