KASHIMA– Sejak ditinggal Dani Alves membela timnas Brasil ke Olimpiade Tokyo 2020, Sao Paulo FC tidak pernah menang dalam tiga laga terakhir di Campeonato Brasileiro Serie A. Tim asuhan Hernan Crespo itu pun kini menempati zona degradasi atau peringkat ke-17 dari 19 kontestan.

Namun, keputusan Alves memilih berlaga di Olimpiade tidak akan sia-sia. Bahkan, hanya tinggal selangkah lagi berakhir manis. Selasa (03/8), bek kanan berusia 38 tahun itu memimpin Selecao lolos ke babak perebutan medali emas cabor sepak bola putra setelah mengalahkan Meksiko melalui adu penalti 4-1.

Alves yang menjadi algojo pertama Brasil sukses menaklukkan kiper Meksiko Guillermo Ochoa. Sukses Alves diikuti tiga algojo Selecao lainnya. Sementara dua dari tiga penendang penalti El Tri gagal mengonversikannya menjadi gol.

Kemenangan pada laga yang dihelat di Kashima Stadium itu tak ubahnya revans Selecao atas Meksiko dalam final Olimpiade London 2012. Brasil yang akan menghadapi Spanyol dalam final di International Stadium Yokohama pada Sabtu nanti (7/8) sekaligus berkesempatan meraih back-to-back medali emas setelah memenangkannya dalam Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Tim terakhir yang mampu melakukannya adalah Argentina pada edisi 2004 dan 2008.

”Aku tidak pernah berhenti berjuang sehingga bisa menginspirasi banyak orang agar tidak menyerah dari mimpinya. Tidak ada yang mustahil. Semakin besar tantangan maka semakin besar motivasinya,” papar Alves di laman resmi Olimpiade Tokyo 2020.

Motivasi yang kini diusung mantan bek Sevilla, FC Barcelona, Juventus, dan Paris Saint-Germain itu adalah menambah koleksi trofinya menjadi 44. Dari 43 trofi yang diraih sebelumnya, pemain berjuluk Tarantula itu lima kali memenanginya bersama Selecao. Masing-masing dua kali di Copa America dan Piala Konfederasi serta Piala Dunia U-20 2003.

”Memiliki pemain berpengalaman (Dani Alves, Red) sangat membantu kami ketika menjalani momen genting seperti hari ini (adu penalti, Red),” ucap pelatih Brasil Andre Jardine kepada Globo Esporte.

Terpisah, striker Brasil Richarlison mengungkapkan bahwa Brasil memang mempersiapkan diri untuk berlatih adu penalti menghadapi Olimpiade Tokyo.

Berkaca dari pengalaman final di Olimpiade Rio 2016, Brasil jadi juara setelah mengalahkan Jerman via babak tos-tosan (5-4). ”Karena kami tahu bahwa tidak semua pertandingan bisa diselesaikan dalam 90 menit hingga babak tambahan waktu,” tutur bintang Everton tersebut. (io/dns)