WASHINGTON – Amerika Serikat memperluas upaya mengevakuasi warga Afganistan yang berpotensi menjadi korban kekerasan Taliban jelang penarikan militer Paman Sam dari sana akhir bulan ini. Departemen Luar Negeri AS mengatakan, ribuan warga Afghanistan dan keluarga dekat mereka berkesempatan untuk dimukimkan secara permanen di AS sebagai pengungsi.

Namun, belum disebutkan jumlah spesifik dari para pengungsi yang mungkin memenuhi syarat untuk program tersebut. “Tujuan AS tetap menjadikan Afghanistan yang damai dan aman,” sebut Departemen Luar Negeri dalam pernyataan resmi.

“Namun, mengingat meningkatnya kekerasan Taliban, pemerintah AS memberikan warga Afghanistan kesempatan, termasuk bagi mereka yang bekerja dengan Amerika Serikat, kesempatan untuk pemukiman pengungsi di Amerika Serikat,” lanjut pernyataan tersebut.

AS juga membuat kategori lain untuk Afganistan dalam program penerimaan pengungsi, yang ditujukan bagi warga Afganistan dan keluarga dekat yang mungkin berisiko karena terafiliasi dengan AS, tetapi tidak memperoleh visa imigran khusus karena mereka tidak bekerja secara langsung untuk pemerintah AS. Atau yang tidak memegang pekerjaan itu cukup lama.

Agar memenuhi syarat untuk kategori tersebut, warga Afghanistan harus direkomendasikan oleh lembaga pemerintah AS, atau oleh pegawai sipil AS, atau oleh organisasi nonpemerintah yang berbasis di AS.

Kelompok pertama pemohon visa imigran khusus Afghanistan, yang sebagian besar menjabat sebagai penerjemah atau melakukan pekerjaan lain untuk pasukan atau diplomat AS, telah lolos pemeriksaan keamanan dan tiba di AS Jumat pekan lalu. Jumlahnya 221 orang. Mereka termasuk di antara 2.500 orang yang akan dibawa ke AS dalam beberapa hari mendatang.

Sementara sekitar 4.000 pemohon visa imigran khusus lainnya, ditambah keluarga mereka, yang belum lolos pemeriksaan keamanan diharapkan akan dipindahkan ke negara ketiga sebelum selesainya penarikan pasukan AS dari Afganistan. Sekitar 20.000 warga Afghanistan dilaporkan telah menyatakan minatnya pada program tersebut. (associatedpress/dwi)