BULU tangkis bukan olahraga populer di Guatemala. Namun, ketika usianya baru 12 tahun, Kevin Cordon sudah berani bermimpi menekuni olahraga yang kurang dikenal di negaranya itu. Bahkan, di usia yang masih belia, dia rela meninggalkan orang tuanya di pedesaan Guatemala. Tujuannya, hanya untuk mencari sekolah bulu tangkis. Sebab, dia punya keinginan untuk bisa tampil di Olimpiade dari cabor bulu tangkis.

”Orang tua saya tidak tahu apa-apa tentang bulu tangkis. Tetapi, mereka berkata, jika kamu ingin menjadi pemain bulu tangkis dan mewujudkan impian, pergilah ke ibu kota,” kata Cordon menirukan ucapan ibunya seperti dikutip situs resmi BWF.

”Saya pergi sendiri. Ya, aku benar-benar sendirian. Federasi mengatakan, ada banyak anak kecil dengan bakat besar. Mereka lalu memindahkan kami ke ibu kota dan berkata, oke, kami akan memberi kalian pelatihan, sekolah, makanan, akomodasi. Itu sebabnya, saya memutuskan untuk pergi,” imbuhnya.

Motivasinya makin berlipat karena sang ibu memberinya dukungan. Justru, sang ibu malah lega karena dengan bulu tangkis anaknya terhindar dari pergaulan bebas. ”Dia (ibu, Red) bilang pergilah, tetapi tetap hati-hati. Meski di sana tidak ada alkohol, tidak ada obat-obatan (terlarang),” ujar pebulu tangkis 34 tahun tersebut.

Seperti anak-anak seusianya saat itu, Cordon sebetulnya juga ingin menjadi pemain sepak bola. ”Karena ayah saya dulu bermain sepak bola. Dan saat itu salah satu pemain terbaik di Piala Dunia adalah Kevin Keegan dari Inggris. Jadi, dia berkata, jika saya punya anak, akan saya beri nama Kevin. Jadi, itulah asal mula nama saya,” jelasnya.

”Saya juga ingin menjadi pesepak bola. Tapi, kemudian bulu tangkis datang dalam hidup saya. Saya memiliki mimpi saya di Beijing (2008) dan sekarang di Olimpiade keempat saya. Itu masih mimpi yang sama, hanya sekarang saya lebih menikmatinya,” papar Cordon. (gil/c9/bas)