Makin banyak kaum hawa yang nyemplung di dunia sepak bola Tanah Air. Di Sulut United, ada sosok Syalomita Gabriella Karen. Siapa dia?

RIZKY AHMAD FAUZI, Jawa Pos

SYALOMITAGabriella Karen baru menginjak 23 tahun pada 13 September nanti. Namun, berbagai bidang pernah digeluti perempuan yang akrab disapa Gasya itu. Mulai jadi atlet, model, hingga kini sebagai manajer marketing klub sepak bola.

Gasya pernah menjadi atlet di cabang olahraga anggar. Beberapa prestasinya, antara lain, meraih medali perak di Pekan Olahraga Kota (Porkot) Manado dalam tiga edisi, 2015, 2018, dan 2019. Sementara itu, prestasinya di dunia modeling adalah menjadi Putri Manado Teenagers (2013), second runner-up Putri Tomohon, dan second runner-up Putri Pariwisata Indonesia (2017).

Kini, dia tertantang untuk berperan di dunia yang baru digelutinya. Yaitu, aktif sebagai pengurus klub sepak bola. Dunia yang asing baginya. Gasya mengaku sejak kecil tidak mengerti sepak bola. Apalagi Liga Indonesia.

Sampailah pada 2019 di Sulawesi Utara hadir sebuah klub bernama Sulut United. Sebagaimana diketahui, Sulut United mengakuisisi Bogor FC menjelang kickoff Liga 2 musim 2019. Nah, dari sini pengalamannya di dunia baru dimulai.

Penggemar AC Milan itu memiliki lingkungan pergaulan di Dinas Olahraga Sulawesi Utara. Pada 2019, dia dipanggil seniornya untuk membantu pekerjaan demi menyukseskan dan meramaikan pertandingan perdana Liga 2 di Sulawesi Utara. Di situ, Gasya bersama rekan-rekannya bertugas menjual tiket di Stadion Klabat, Manado. “Dan waktu itu tiketnya manajemen mereka berbeda dengan manajemen Sulut United. Tiket ini vendornya Sulut United,” bebernya.

Gasya suka membantu manajemen loket untuk menghitung pemasukan. Akhirnya, manajemen loket tersebut memperkenalkan dirinya ke bagian manajemen Sulut United. “Dari situ saya diajak bergabung. Kebetulan juga Sulut United yang masih baru waktu itu lagi membutuhkan karyawan. Awal karier saya di 2019 itu,” sebutnya.

Selain menjadi manajer marketing Sulut United, Gasya bertugas sebagai manajer Sulut United Football Academy. Dia menilai, dari atlet, modeling, hingga pengurus di sepak bola ada persamaan. Yaitu, sama-sama ingin membawa nama baik Sulawesi Utara. Prestasi untuk daerah.

Gasya tidak ingin setengah-setengah ketika nyebur di sepak bola. Dia bersama klub memiliki visi untuk menjadikan Sulut United FC sebagai klub sepak bola terkemuka di Indonesia dan menjadi kebanggaan Sulawesi Utara.

Pada musim ini, dia melihat value Liga 2 meningkat karena adanya beberapa investor baru dari berbagai kalangan seperti public figure. Karena itu, animo masyarakat terhadap Liga 2 juga meningkat. Untuk target, Sulut United tak ubahnya dengan klub lain yang ingin menjadi yang terbaik.

Dia senang tim tidak dibubarkan di situasi sulit seperti sekarang. “Semua program dan pemain masih semangat latihan. Dari segi kesiapan kami sangat siap. Hasilnya kita lihat nanti,” ucapnya.

Meski terbilang baru seumur jagung, Gasya merasa bersyukur sekali bisa dipertemukan dengan klub yang menurutnya kompak dan saling mendukung. “Dan di klub ini mengajari saya bahwa kerja yang menghasilkan sesuatu itu jauh lebih penting daripada titel atau jabatan,” paparnya.

Selain itu, kesenangan lainnya adalah bisa mendapatkan kesempatan diskusi dan belajar dari sponsor serta investor yang terlibat dalam menggerakkan ekonomi di Indonesia. Tapi, di balik kesenangan, juga ada kepedihan tatkala ditolak sponsor. “Dan, ya, saya rasa itu biasa dan membuat saya lebih semangat dalam berbenah dan perbaiki jika ada yang kurang dari segi kualitas,” ucapnya.

Namun, dia memiliki keyakinan kalau sesuatu yang besar tidak berjalan mulus-mulus saja. “Ada beberapa orang yang menilai saya hanyalah perempuan di mana hanya jadi pelengkap dalam klub. Ada juga yang menilai saya kecentilan karena dikelilingi banyak laki-laki,” paparnya. Akan tetapi, semua omongan tersebut dianggapnya angin lalu. (c17/ali/jpg/ndy/k8)