Tak mudah bagi keluarga untuk memberi tahu kabar duka meninggalnya kedua orangtua empat bersaudara. Namun, ikatan batin seorang anak rupanya sudah lebih dulu mampir dan menjadi pertanda.

 

PEMBEKALAN ilmu agama yang kuat disebut pihak keluarga yang membuat anak-anak almarhum Ali Yusni dan Deasy Setiawati tegar. Selain menempatkan pada sekolah berlatar pendidikan agama, keduanya disebut cukup ketat dalam membentuk karakter keagamaan pada anak-anaknya.

Itulah yang diyakini pihak keluarga, membuat keempat anaknya Arya (17), Arga (13), Abrar (8), dan Aira (4,5) tampak tegar dalam menerima kondisi tersebut. Yusril, salah satu adik Ali Yusni bercerita seputar keseharian keluarga almarhum.

Selain di kenal gemar bersosialisasi di masyarakat, kakaknya tersebut aktif di berbagai kegiatan. Dia juga kerap dipercaya menjadi bendahara dalam berbagai kepengurusan, lantaran dinilai sebagai sosok yang amanah.

Menjelang hari meninggalnya sang kakak di RSUD AM Parikesit, Yusril mengaku sempat mendapat kabar jika kondisi almarhum semakin kritis. Dia dihubungi langsung oleh Deasy, istri almarhum yang diketahui akhirnya juga meninggal.

“Saya sempat dikabari istri almarhum, katanya ini kakak saya sudah gak mau berjuang lagi. Minta tolong dikasih tahu. Mungkin saat itu, istri almarhum juga khawatir dan sempat panik,” kata Yusril.

Meninggalnya Ali Yusni, semula sempat dirahasiakan keluarga kepada anak-anak almarhum. Hal ini agar memulihkan kondisi anak pertama dan ketiga yang juga menjalani isolasi karena turut terpapar Covid-19. Begitu juga saat meninggalnya almarhumah Deasy.

Namun, meninggalnya Ali Yusni membawa firasat tersendiri bagi Arga. Ia sempat melayangkan surat melalui pondok pesantren. Surat tersebut memotivasi orangtuanya agar semangat.

“Mah, Pah, Abay dan Kak Arya apa kabar? Masih sakit kah? Mun ada apa-apa kabari Arga. Misalnya sudah sembuh telepon Arga. Arga di sini sehat, jangan terlalu mikirkan Arga,” begitu petikan surat Arga yang ternyata tidak sempat dibaca orangtuanya.

Selain itu, anak bungsu Arya tak kalah kuat firasatnya. Ia selalu menanyakan keberadaan orangtuanya yang sebenarnya sudah meninggal. Meski dijawab jika orangtuanya sedang di rumah sakit, namun Arya seolah tak percaya.

Ia menyebut sendal mamanya sudah sampai rumah nenek. “Itu sendal mama, sudah ada di rumah," kata Yusri, menirukan ucapan anak almarhumah.

Rabu (27/7), pihak sekolah dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kukar menjenguk Arya di kediaman neneknya. Rombongan dari MAN 2 dipimpin Irfan Anshori, kepala MAN 2 Kukar. Selain memberikan bantuan, pihak sekolah menyampaikan berbagai perkembangan di sekolah.

Selain itu, dia turut menyampaikan rasa empati. Arya disebut-sebut memiliki cita-cita ingin menjadi polisi bersama adiknya Arga. Saat ini, Arya juga tercatat sebagai ketua Ekstrakurikuler Pramuka di sekolahnya.

Kapolres Kukar AKBP Arwin A Wientama pun menyampaikan pihaknya siap memfasilitasi dan mendukung keinginan anak almarhum untuk menjadi polisi.(qi/kri/k8)