Pembatasan ketat mobilitas masyarakat yang terus berlanjut membuat Bank Indonesia (BI) mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional menjadi 3,5-4,3 persen dari sebelumnya 4,1-5,1 persen. Namun tidak untuk Kaltim. Ekonomi Bumi Etam diyakini tetap tumbuh positif tahun ini.

 

SAMARINDA - Setelah terkontraksi 2,85 persen pada 2020, perekonomian Kaltim diperkirakan kembali positif pada rentang 1,53-2,53 persen (yoy). Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono menuturkan, keyakinan ini didasarkan pada struktur utama ekonomi Kaltim yang berasal dari ekspor. Berbeda dengan nasional yang bertumpu pada konsumsi rumah tangga (RT) atau masyarakat.

“PPKM yang berakibat menurunkan mobilitas dan konsumsi masyarakat bisa membuat pertumbuhan ekonomi nasional melambat. Namun di kita (Kaltim) konsumsi RT relatif kecil terhadap struktur ekonomi. Jadi tidak terlalu berpengaruh. Di Kaltim struktur yang paling besar berasal dari ekspor batu bara dan CPO (crude palm oil, Red),” terangnya, Selasa (27/7).

Secara sektoral, tahun ini perekonomian Kaltim masih didorong oleh perbaikan pada seluruh lapangan usaha. Utamanya pertambangan dan industri pengolahan setelah terkontraksi cukup dalam pada tahun sebelumnya. Kinerja ekspor diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya seiring peningkatan permintaan dari negara mitra dagang terutama Tiongkok, India, dan Jepang.

Permintaan batu bara dari negara-negara tujuan alternatif, seperti Vietnam, Taiwan, dan Korea diprediksi juga akan mendorong kinerja ekspor lebih baik untuk pemenuhan pasokan PLTU domestik. Selain itu kinerja positif industri pengolahan juga akan bersumber dari base effect di industri pengolahan migas dan bahan bakar nabati (CPO).

Pihaknya optimistis ekonomi Kaltim bisa tumbuh lebih baik tahun ini, di tengah harga dan kinerja ekspor yang sangat tinggi. “Apalagi cuaca tidak seburuk triwulan I, sehingga kinerja ekspor kita masih sangat bagus pada triwulan kedua,” terangnya.

Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Alphonsus Widjaja mengatakan, kebijakan pemerintah yang memperbolehkan mal buka dengan kapasitas 25 persen di wilayah PPKM Level 3 tetap memberatkan pengusaha. Sebab, jumlah kapasitas maksimalnya sangat terbatas. Menurutnya, kapasitas 25 persen setara dengan tingkat kunjungan sekitar 10 persen.

"Pusat perbelanjaan menyambut baik atas kelonggaran yang diberikan di wilayah PPKM Level 3 meskipun tentunya masih akan memberatkan dikarenakan baru boleh beroperasi hanya dengan kapasitas 25 persen saja," ungkapnya.

Selain itu, pemerintah hanya mengizinkan mal di wilayah PPKM Level 3 beroperasi sampai pukul 17.00. Hal tersebut tak cukup berdampak karena biasanya puncak kunjungan (peak hour) terjadi pada malam hari. "Malam hari adalah puncak kunjungan bagi pusat perbelanjaan dan restoran. Jika hanya beroperasi sampai dengan pukul 17.00, maka pusat perbelanjaan dan restoran akan kehilangan puncak kunjungan," terang Alphonsus.

Diketahui, pemerintah memutuskan untuk memperpanjang PPKM Level 4 dan 3 di Jawa-Bali hingga 2 Agustus 2021. Peraturan dan ketentuan PPKM Level 4 dan 3 di Jawa Bali tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 24 Tahun 2021 yang ditandatangani Mendagri M Tito Karnavian pada 25 Juli.

Dalam aturan tersebut tertulis bahwa kegiatan di pusat perbelanjaan atau mal tetap ditutup untuk yang berada di wilayah yang menerapkan PPKM Level 4. Hal ini sama seperti aturan sebelumnya. Sementara, mal yang berada di wilayah PPKM Level 3 diizinkan untuk beroperasi. Hanya saja, kapasitas maksimal ditentukan sebesar 25 persen dan jam operasional sampai 17.00 waktu setempat. (ctr/ndu/k15)

Pangsa PDRB Kaltim Berdasarkan Lapangan Usaha

Pangsa

Pertambangan 43 persen

Industri Pengolahan 19 persen

Konstruksi 9 persen

Perdagangan 6 persen

Transportasi 3 persen

Pertanian 9 Persen

Lapangan usaha lainnya 11 persen

Sumber: Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Kaltim