KANDAHAR- Hafiz Mohammad Akbar hanya bisa meratapi nasib. Dia dan seluruh keluarganya terpaksa meninggalkan rumah mereka di Kandahar, Afghanistan karena serangan Taliban. Kini rumahnya diambil alih oleh kelompok oposisi yang berdiri sejak 1994 tersebut.

’’Mereka (Taliban, Red) memaksa kami pergi. Saya dan 20 anggota keluarga saya kini tinggal di kamp tanpa toilet,’’ ujar Hafiz seperti dikutip Agence France-Presse. Kandahar dulu adalah markas Taliban saat mereka berkuasa pada 1996-2001. Ada 650 ribu penduduk yang tinggal di sana. Itu adalah kota terbesar kedua setelah Kabul. Taliban agaknya ingin menguasai kembali kota tersebut. Belakangan ini pertempuran di Kandahar kian intensif.

’’Pertempuran telah membuat 22 ribu keluarga di Kandahar kehilangan tempat tinggal dalam sebulan terakhir,’’ ujar Kepala Departemen Pengungsi Kandahar Dost Mohammad Daryab. Penduduk pindah dari distrik yang sedang dijadikan arena pertempuran ke area yang lebih aman. Pemerintah setempat telah membuat kamp-kamp pengungsian. Total penduduk yang mengungsi ke kamp sudah mencapai 154 ribu orang.

Wakil Gubernur Kandahar Lalai Dastageeri menuding kelalaian aparat keamanan, utamanya polisi, yang membuka jalan bagi Taliban untuk menyerang. ’’Kami sekarang berusaha untuk menata kembali pasukan keamanan kami,’’ ujarnya.

Sejak awal Mei, pertempuran terjadi di beberapa kota di Afghanistan. Kandahar hanyalah salah satunya. Itu terjadi pasca penarikan pasukan AS dari negara tersebut. Saat ini hampir separo dari sekitar 400 distrik di Afghanistan sudah jatuh ke tangan Taliban.

Penduduk sipil pun menjadi korban. PBB melaporkan sekitar 2.400 penduduk sipil Afghanistan tewas ataupun terluka pada Mei dan Juni. Mereka adalah korban pertempuran antara Taliban dan pasukan keamanan Afghanistan. Angka itu adalah rekor tertinggi sejak PBB mencatat angka korban pertempuran di negara tersebut pada 2009 lalu.

Misi Pendampingan PBB untuk Afghanistan (UNAMA) menyebut ada 5.183 korban sipil pada Januari-Juni tahun ini. Sebanyak 1.659 di antaranya tewas. Itu meningkat 47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jika serangan Taliban di berbagai penjuru negeri tidak dihentikan, maka warga sipil yang tewas bakal mencapai rekor tertinggi selama lebih dari dari satu dekade.

’’Saya mohon pada para pemimpin Taliban dan Afghanistan untuk memperhatikan lintasan konflik yang suram dan mengerikan ini serta dampaknya yang menghancurkan terhadap warga sipil,’’ tegas Kepala UNAMA Deborah Lyons kemarin (26/7). Lyons mengungkapkan, lebih dari separo korban tewas dan luka selama Mei dan Juni adalah perempuan serta anak-anak. Kenyataan itu membuat miris banyak pihak. Sebab, pembicaraan damai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan juga belum membuahkan hasil.

Di sisi lain, Taliban menampik laporan UNAMA tersebut. Dalam pernyataannya, Taliban menegaskan bahwa selama 6 bulan terakhir mereka tidak menyerang warga sipil dengan sengaja. Mereka juga tidak melakukan serangan yang bisa berdampak pada warga sipil.

Meski begitu temuan Human Rights Watch (HRW) menambah kuat data PBB. Mereka menemukan bukti bahwa Taliban berbuat kejam pada warga sipil di daerah yang mereka kuasai. Salah satunya di Spin Boldak yang berbatasan dengan Pakistan. Kota strategis itu mereka rebut awal bulan ini.

Juru Bicara Pasukan Keamanan Afghanistan Ajmal Omar Shinwari mengungkapkan bahwa sekitar 400 orang penduduk Spin Boldak telah diusir dari rumahnya oleh Taliban. Sekitar 100 orang di antaranya telah tewas. Tidak diketahui bagaimana nasib 300 orang sisanya.

Terpisah, Amerika Serikat kini gamang untuk membiarkan militer Afghanistan bertempur dengan kekuatannya sendiri. Kepala Komando Pusat Militer AS Jendral Kenneth McKenzie mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir mereka membantu pasukan Afghanistan. Lewat dukungan serangan udara ketika mereka bertempur dengan Taliban.

’’Kami siap melanjutkan dan meningkatkan dukungan (serangan udara) dalam beberapa minggu mendatang jika taliban tetap menyerang,’’tegasnya. (sha/bay)