SAMARINDA-Jumlah tenaga kesehatan (nakes) dan kapasitas perawatan yang kurang membuat rumah sakit rujukan Covid-19 di Kaltim makin kewalahan. Opsi membangun rumah sakit darurat tengah dipertimbangkan. Persoalannya, tidak mudah merekrut nakes dalam waktu singkat.

Dalam beberapa hari terakhir, kasus pasien isolasi mandiri (isoman) yang meninggal sebelum mendapat perawatan di rumah sakit kerap terjadi. Senin (26/7) misalnya, publik dihebohkan dengan seorang pasien yang mengembuskan napas di parkiran instalasi gawat darurat (IGD) RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda karena ditolak masuk ruang IGD.

Direktur RSUD AWS David H Masjhoer menjelaskan, saat ini rumah sakit yang dia pimpin tengah kewalahan. "Kami sudah kewalahan juga, karena sampai saat ini sudah 250 lebih nakes kami juga sedang isoman. Kami bukan menolak pasien, tapi sudah tidak mampu lagi menangani semua pasien yang datang. Keluarga pasien ini juga sudah menghubungi RS lain, dan mereka juga tidak sanggup," jelas David. Dia memaparkan, kemampuan pihaknya menangani pasien sudah sampai batas maksimal. Dampak seperti ini pasti akan terjadi.

"Harapan saya memang ada penambahan fasilitas kesehatan untuk mengatasi masalah overload pasien ini. Dan saya kira ini wewenang pemerintah daerah. Tetapi, mengingat nakes juga merupakan SDM yang sulit dicari saat ini, tentu akan memerlukan waktu merealisasikannya dengan segera. Sehingga, pencegahan penyebaran di masyarakat dan edukasi serta sosialisasi masalah keterbatasan faskes saat ini perlu juga disampaikan ke masyarakat," bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Padilah Mante Runa mengatakan, opsi membangun rumah sakit darurat tengah dibahas. Saat ini, pembahasan masih pada lokasi rumah sakit darurat. Tetapi, jika pun nanti lokasi rumah sakit darurat sudah ditentukan, ketersediaan sumber daya manusianya juga tidak mudah diputuskan.

"Seumpama kita dapat, baru nakes-nya lagi kita pikirkan. Karena nakes-nya sekarang itu jarang yang mau kerja, karena Covid-19. Karena kita saja istilahnya, kayak mana kita mati tinggalkan anak masih muda-muda semua. Kalau dokter tua kan tidak bisa karena comorbid. Kalau yang muda ini mikir, kayak mana anakku masih bayi seumpama saya mati," jelasnya. Apalagi, banyak dokter-dokter muda yang meninggal.

Padilah melanjutkan, dirinya sudah berkoordinasi dengan seluruh rumah sakit agar mereka bisa sebanyak-banyaknya mengonversi kamar perawatan. Dia menjelaskan, kasus yang terjadi di RSUD AWS kemarin disebabkan antrean di IGD yang sudah penuh. Agar kondisinya bisa lebih dikendalikan, pihaknya nanti membuat sistem bagaimana pasien dengan tingkatan gejala diklasifikasikan. Begitu pun dengan lokasi perawatannya.

"Dinas kesehatan juga atur sistem rujukan. Sekarang sudah darurat, sekarang sudah air bah. Bagaimana atur. Tidak mungkin masuk-masuk semua ke rumah sakit," sambungnya. Padilah menjelaskan, seminggu lalu, opsi menambah tempat tidur di rumah sakit berhasil. Tetapi, seberapa pun rumah sakit menambah nakes dan tempat tidur, tapi kalau masyarakat abai terhadap protokol kesehatan, maka rumah sakit tetap akan kewalahan.

Padilah menyebut tengah memutar otak. Saat meminta ke TNI Polri, dua instansi itu tak punya tenda dengan fasilitas bagus. Seperti tenda berpendingin ruangan layaknya yang ada di Jakarta. Sehingga, melakukan perawatan di tenda pun tak memungkinkan. Pun begitu dengan stok oksigen, yang juga masih minim. "Di Bontang ada pabrik gas, cuma produksi 32 ribu meter kubik sedangkan kebutuhan rumah sakit saja 40 ribu meter kubik. Belum yang isoman juga. Bisakah tambah produksi? Enggak bisa. Varian delta ini terapinya oksigen. Memang delta ini pusing kepala, sakit badan, tiba-tiba sesak. Panasnya cuma meriang. Makanya mari kita semua, jangan keuyuhan (lelah) pakai masker," pungkasnya. (nyc/riz/k15)