SAMARINDA - Kinerja ekspor minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) tahun ini diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Seiring dengan peningkatan permintaan negara mitra dagang utama, yakni Tiongkok, India dan Jepang. Lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia dinilai tak akan mengganggu kinerja ekspor CPO.

Ekspor luar negeri Kaltim tercatat masih didominasi oleh komoditas non-migas, utamanya batu bara dan CPO dengan Tiongkok dan India yang menjadi negara tujuan utama. Berdasarkan nilainya, komoditas batu bara dan CPO memiliki pangsa terbesar, dengan masing-masing menyumbang 78,13 persen dan 16,53 persen terhadap ekspor Kaltim.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammadsjah Djafar mengatakan, setidaknya terdapat 10 negara yang sudah melarang kedatangan warga negara asal Indonesia seiring lonjakan kasus Covid-19 secara signifikan di dalam negeri, di antaranya Filipina, Singapura, Uni Emirat Indonesia, Hong Kong, Arab Saudi, Oman, Negara Eropa dengan visa Schengen, Jepang, Taiwan, dan Bahrain.

Namun, kondisi tersebut tidak akan mengganggu kinerja ekspor CPO tahun ini. “Di tengah memburuknya situasi pandemi, ekspor kita tercatat masih tumbuh. Sehingga, pelarangan warga negara Indonesia ke berbagai negara tidak akan memengaruhi ekspor CPO kita,” jelasnya, Minggu (25/7).

Dia menjelaskan, ekspor CPO Kaltim berhasil tumbuh 105,57 persen (year on year/yoy) pada tahun ini. Selain itu tren harga masih akan terus meningkat, sebab momentum peningkatan harga masih ada. Tahun ini ditargetkan ekspor minyak kelapa sawit sampai akhir tahun sekitar 30-35 juta ton.

Jumlah itu lebih tinggi dari ekspor minyak kelapa sawit Indonesia mencapai 34 juta ton pada 2020. Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia pada periode Januari-Mei 2021 tercatat sebanyak 13,75 juta ton. Adapun beberapa negara tujuan utama ekspor minyak kelapa sawit Indonesia antara lain India, Pakistan, Tiongkok, Bangladesh, dan lain sebagainya.

Sehingga diprediksi target ekspor kelapa sawit akan terpenuhi. Apalagi, pada tahun ini produksi CPO akan mencapai 48,2 juta ton atau lebih tinggi dibandingkan produksi 2020 yang berjumlah 47,1 juta ton. “Sehingga, ekspor kelapa sawit tahun ini masih akan tumbuh lebih baik dan tidak ada hubungannya dengan larangan kedatangan masyarakat Indonesia. Kita masih optimistis target ekspor CPO tahun ini bisa tercapai,” tutupnya. (ctr/ndu/k15)