TOKYO– Eko Yuli Irawan memang belum bisa meraih emas Olimpiade yang pertama di cabor angkat besi. Namun, Eko tetap tercatat sebagai lifter Indonesia tersukses. Selama kariernya, Eko telah mengoleksi dua perak dan dua perunggu Olimpiade. Semua diraih beruntun dalam empat kali keikutsertaannya di ajang Olimpiade. Karena itulah, Eko kini menjadi atlet pertama Indonesia yang mengoleksi empat medali di empat edisi Olimpiade.

Capaian Eko itu telah melampaui raihan Raema Lisa Rumbewas. Lifter perempuan asal Papua tersebut tercatat mengoleksi satu perak dan dua perunggu dalam tiga edisi Olimpiade beruntun.

Hasil itu masih ditambah dengan raihan Asian Games. Eko juga menjadi lifter pertama Indonesia yang menjuarai Asian Games. Dia meraih emas pada Asian Games 2018. Nah, Eko mendapatkan medali perak pada Olimpiade Tokyo setelah menempati posisi kedua dalam kelas 61 kilogram.

”Medali perak ini saya persembahkan untuk seluruh masyarakat Indonesia dan keluarga,” kata lifter 32 tahun tersebut. Dia kalah dari rivalnya, Li Fabin. Lifter Tiongkok itu menyabet emas dengan raihan snatch 141 kilogram, rekor Olimpiade untuk clean and jerk 172 kilogram, dan total angkatan 313 kilogram. Sementara, Eko mencatat hasil snatch 137 kilogram, clean and jerk 165 kilogram, dan total 302 kilogram. Hasil itu jauh dari target yang Eko tetapkan. ”Saya minta maaf karena belum bisa mempersembahkan emas untuk Indonesia sebagaimana cita-cita saya,” ujar Eko kepada Tim Media KOI.

Pada pertandingan di Tokyo International Forum kemarin, Eko memulai angkatan snatch dengan cukup mulus dengan 137 kilogram. Hanya, pada angkatan snatch kedua, Eko menaikkan beban menjadi 141 kilogram dan dia gagal. Pada angkatan ketiga, dia juga tidak berhasil.

Sebaliknya, Fabin yang gagal pada snatch pertama justru berhasil pada dua kesempatan berikutnya. Fabin pun berada di atas angin. Apalagi, Fabin berhasil meraih angkatan 172 kilogram pada clean and jerk kedua.

Saat clean and jerk pertama 165 kilogram, Eko berhasil mengamankan perak. Eko kemudian berani menaikkan angkatan hingga 177 kilogram. Dengan harapan, jika berhasil, dia bisa mengalahkan Fabin. Jika gagal, Eko tetap meraih perak. Sayangnya, Eko gagal dalam dua clean and jerk terakhir. Eko mengakui berani menaikkan angkatan kedua clean and jerk tersebut agar bisa menyusul Fabin.

”Sebab, pada angkatan snatch, saya sudah selisih 4 kilogram dengan Li Fabin. Keputusan itu harus saya ambil untuk membuka peluang meraih emas,” jelasnya.

Sementara itu, lifter Deni belum bisa meraih hasil maksimal. Deni yang turun pada kelas 67 kilogram menempati posisi ke-9. Deni meraih hasil snatch 135 kilogram, clean and jerk 166 kilogram, dan total 301 kilogram. (gil/c14/bas)