SAMARINDA–Jumlah kapasitas tempat tidur untuk pelayanan pasien terkonfirmasi Covid-19 atau bed occupancy rate (BOR) terus dimaksimalkan. Berdasarkan rapat minggu ketiga Juli, jumlah tempat tidur meningkat dari 344 unit menjadi 576 unit. Hal itu berkat dukungan dari rumah sakit swasta di Samarinda.

Total saat ini ada 14 rumah sakit yang mampu menerima pasien Covid-19 dengan kondisi sedang hingga berat. Demi memaksimalkan itu, Wakil Wali Kota Samarinda Rusmadi melakukan sidak di RSUD AW Syahranie beberapa waktu lalu. Dia menyampaikan bahwa kunjungan itu guna memastikan sejauh mana persiapan rumah sakit pelat merah dengan penambahan yang dilakukan. Sebelumnya RSUD AWS disebut mengalihfungsikan ruang perawatan Anggrek, Melati dan Flamboyan untuk pelayanan pasien Covid-19. Jika seluruhnya terlaksana, RSUD AW Syharanie bisa menambah hingga 120–126 unit. "Persiapannya sudah baik dan semoga dalam waktu dekat bisa beroperasi seluruhnya," ucapnya.

Dia menambahkan, saat ini semua rumah sakit melaporkan kondisi BOR ke pusat atau Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui aplikasi Sistem Informasi Rawat Inap (Siranap) tiap tiga jam sekali, agar pergerakan BOR bisa dipantau berkala. Bahwa kebijakan pelaporan itu juga diharapkan bisa disampaikan ke pemkot dengan rentan waktu yang sama. "Karena Satgas Covid-19 Samarinda berhadapan langsung dengan masyarakat. Makanya permintaan satgas covid itu dikonsultasikan ke pihak RS," ujarnya.

Pria yang akrab disapa Cak Rus itu menyebut, dari diskusi dengan pihak RSUD AW Syahranie, tengah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM), dan mereka menyatakan tidak masalah. Jadi, ketika RS besar bisa mendukung, tentu RS lainnya bisa menyesuaikan. "Dengan demikian, informasi yang ada lebih aktual. Ketika di salah rumah sakit ada tempat tidur kosong, bisa diisi pasien yang ada di IGD, sehingga tempat tidur kosong di IGD bisa menampung pasien baru atau rujukan rumah sakit lain yang penuh," tutupnya.

Terkadang beberapa pasien yang menjalani isolasi mandiri tak mendapatkan ruang perawatan. Bahkan korban dari masa pagebluk turut bertambah. "Jadi, berbeda memang dengan tahun lalu. Sebelumnya kasus melonjak juga. Dan kondisi saat ini memang tidak disangka dan terjadi di seluruh Indonesia. Makanya kami coba ambil langkah cepat, yaitu optimalisasi satgas kecamatan. Masing-masing puskesmas ada kontaknya untuk telemedicine," timpal Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda dr Ismid Kusasih.

Dia menduga lonjakan kasus disebabkan varian baru. "Kalau varian baru untuk memastikannya enggak bisa Diskes, harus ke Jakarta. Tapi kalau dilihat pergerakan penularan penyakit yang sangat cepat memang ada ke arah situ (varian baru), kan sudah dirilis jika Indonesia masuk salah satu yang variannya besar," ungkapnya. (*/dad/dns/dra/k16)