SANGATTA - Di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) belum semua pemandu wisata dianggap mumpuni, mengingat sebagian besar tidak mengantongi sertifikat pemandu. 

Dijelaskan Ketua HPI Kutim Askhar Muzakkar, jika pemandu di kabupaten ini membutuhkan peningkatan sumber daya manusia. Mengingat hal ini sangat memengaruhi standard tour guide dalam mendampingi pengunjung wisata. 

"Kami harap Dinas Pariwisata bisa memfasilitasi bimbingan untuk meningkatkan SDM pemandu wisata anggota HPI Kutim, terutama pelatihan sertifikasi pemandu wisata," harap dia. 

Seperti diketahui, sebanyak 31 pemandu wisata di Kutim, namun baru dua orang yang tersertifikasi skala madya. Sedangkan pemandu muda dan tour leader tidak ada sama sekali. 

"Sertifikasi pemandu wisata tingkatannya ada tiga. Pemandu muda, pemandu madya dan pemandu tour leader. Tapi di Kutim baru ada dua orang yang madya, saya dan Irfan. Sedangkan muda dan tour leader tidak ada disini," bebernya. 

Tidak hanya itu, dirinya juga meminta pada dinas tersebut supaya melibatkan HPI dalam setiap kegiatan pariwisata, terutama yang berkaitan dengan kepemanduan wisata. Mengingat, ranah wisata merupakan bagian dari menjalankan program HPI Kutim. 

Kutim akan memetakan tiga zona pariwisata. Seperti yang diungkapkan oleh Kadispar Nurullah. Seperti zona 1 yang berada di wilayah Sangatta yaitu Taman Nasional Kutai Kawasan Prevab. Tempat wisata ini memiliki keunikan tersendiri, selain hutannya yang masih alami, habitat asli layaknya orang utan dan tarantula dapat ditemui dengan mudah. Sayangnya, tidak banyak warga yang mengetahui kekayaan alam satu ini. 

Sedangkan di zona 2, Karst Sangkulirang Mangkalihat menjadi wisata terbaik yang akan diperketat penjagaannya. Mengingat kekayaan alam yang satu ini sangatlah langka dan harus dijaga kelestariannya, serta sangat mudah terancam kerusakan. Di situ ada telapak tangan yang menurut penelitian usianya mencapai 40 ribu tahun, dan ini sudah menjadi tentatif situs warisan dunia UNESCO. 

Sedangkan, di kawasan zona 3 terdapat Goa Kongbeng. Pelestariannya pun menjadi perhatian. Pasalnya, goa yang memiliki nilai-nilai sejarah dengan adanya arca dan patung-patung tersebut pun belum dikenal publik secara meluas. Hingga, kealamiannya juga menjadi ancaman jika tidak dilindungi dan diperhatikan. (*/la/ind)