Dunia sepak bola Indonesia jadi salah satu yang turut terdampak imbas kembali meningkatnya kembali kasus aktif pandemi Covid-19. Kompetisi yang sedianya digulir awal bulan ini, kini harus tertunda.

YANG menelan pil pahit dari kondisi itu yakni seluruh elemen yang terlibat di dalam industri si kulit bundar tersebut. Dari sisi persiapan, program yang disusun agar tim bisa siap mengarungi kompetisi pada awal Juli, kini berantakan.

Hal tersebut turut dirasakan tim kontestan Liga 2 asal Kaltim, Persiba Balikpapan. Mereka merupakan salah satu tim yang serius mempersiapkan diri menghadapi kompetisi musim ini. Yakni dengan menggelar pemusatan latihan alias training camp (TC) di Jakarta. Bahkan sempat menjajal persiapan dengan melakoni tiga uji coba menghadapi tim profesional lainnya.

Namun, sejak kasus pandemi Covid-19 kembali meningkat dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat diterapkan, TC terpaksa diakhiri lebih cepat. Kini para pemain dipulangkan ke daerah masing-masing. Dari sana, mereka menunggu kejelasan kapan kompetisi akan kembali bergulir.

Presiden Persiba Balikpapan Gede Widiade pun turut membenarkan dampak negatif dari penundaan tersebut. Terlebih, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka pun menyadari sangat tidak mungkin menggelar event besar di tengah situasi yang tidak kondusif ini. “Virus ini tidak menimbulkan sakit yang biasa. Tapi bisa berujung kematian. Jadi, saya kira harus disikapi dengan bijaksana. Tidak boleh gegabah, apalagi sampai tidak memikirkan dampaknya,” ujarnya.

Saat ini PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi dan PSSI masih mengupayakan agar kompetisi bisa berjalan paling cepat pada pekan ketiga Agustus. Tentang wacana tersebut, Gede menyambut hangat. Namun, dia kembali menekankan, agar para stakeholder tetap melihat kondisi saat ini, baik dari keamanan dalam hal kesehatan maupun anggaran.

Dia mempertanyakan kemampuan anggaran penyelenggara jika ajang kembali bergulir. Juga, bagaimana kemampuan dari seluruh klub yang ikut serta. Kendati begitu, untuk Persiba, masih terbantu dengan beberapa sponsor walau ada sebagian ada yang tertunda.

Dia juga membenarkan, 99 persen pemain telah kembali ke daerah masing-masing. Sementara terkait upah pemain, melihat kejelasan jadwal pertandingan Agustus mendatang. Jika memang belum terlaksana, kemungkinan akan ada pemotongan.

“Kalau di Persiba sih relatif pemain mengerti kondisi perusahaan. Karena saat tidak main sebelumnya, juga tetap kami gaji. Intinya hubungan ini harus harmoni, kalau perusahaan ada kemampuan tetap kami gaji,” imbuhnya.

Diakui Gede, penyelenggaraan event tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga operator event  harus melihat apakah masih ada pihak sponsor yang ingin terlibat. Karena itu, dia berpesan, kebijaksanaan menjadi prioritas dalam mengambil keputusan. Khususnya bagi kepentingan bersama di berbagai aspek.

Jika nantinya ajang tersebut dilanjutkan, dirinya menyatakan akan mempertimbangkan hal tersebut. Bila memungkinkan, tim Beruang Madu akan ikut serta.

“Tetapi, kalau dari segi kesehatan dan keuangan tidak memungkinkan, ya kami akan bikin surat. Dengan pertimbangan yang ada. Jadi pola pikir kita antara klub, operator, dan federasi harus sama. Karena polemiknya sama, soal pandemi Covid-19,” tuntas dia. (*/okt/ndy/k16)