*Catatan I’ied Rahmat Rifadin, Wartawan Jawa Pos

 

Sabtu sore, 23 November 2013. Jalanan di pusat kota Milwaukee sedang padat-padatnya. Jam pulang kerja sudah tiba. Musim dingin mengembuskan angin yang menusuk tulang.

Dr Jane Gallop, profesor di University of Wisconsin, Milwaukee, saat itu sedang berbelanja bersama seorang temannya di Brady Street. Sekitar 2,7 kilometer di timur BMO Harris Bradley Center, markas Milwaukee Bucks.

Di tengah berbelanja, dia melihat remaja jangkung kulit hitam sedang melintas. Wajahnya cukup familier. Remaja itu berjalan sambil sedikit berlari dengan hanya mengenakan jaket tipis. Bukan jaket tebal yang umum dikenakan orang Amerika Serikat (AS) saat musim dingin.

Beberapa saat kemudian, empat blok dari tempatnya berbelanja, Gallop yang sudah selesai berbelanja dan sedang mengemudikan mobilnya melihat lagi remaja tersebut. Dia masih berjalan terburu-buru seperti kali pertama dilihatnya tadi. Saat mobilnya melintas tepat di depan remaja itu, profesor 69 tahun tersebut baru sadar bahwa remaja itu adalah Giannis Antetokounmpo. Saat itu, anak muda Yunani tersebut barulah pemain rookie 18 tahun yang dipilih Bucks pada NBA Draft Juni 2013.

Profesor komparasi literatur itu kemudian menghentikan mobilnya. Dia menurunkan kaca mobil, lantas menawarinya tumpangan. ’’Apakah Anda juga akan pergi ke Bradley Center?’’ tanya Antetokounmpo. Gallop mengiyakan, lantas membuka pintu belakang mobilnya. Ketika Antetokounmpo sudah duduk di kursi belakang, Gallop berbasa-basi dengan mengatakan seharusnya dia mengenakan jaket yang lebih tebal di musim dingin seperti ini.

Antetokounmpo menjawab dengan mengatakan kartu kreditnya tidak bisa lagi dipakai karena limit. Dia juga telah mengirim semua uangnya kepada keluarganya di Yunani. Karena itu juga, dia lebih sering berjalan kaki sambil sesekali berlari dibanding naik taksi menuju Stadion Bradley Center saat akan berlatih maupun tanding.

Antetokounmpo mengaku sudah biasa berjalan kaki dari tempat tinggalnya di Lake Drive menuju Bradley Center. Jarak dua tempat itu 11 kilometer. ’’Kami menurunkannya tepat di depan Bradley Center. Saat itu sama sekali tidak terpikir untuk berfoto bersamanya. Aku hanya mendapat tanda tangannya. Sebelum turun dari mobil, dia berkata, ’Terima kasih, Anda benar-benar menyelamatkan saya hari ini’. Dia sungguh remaja yang manis... Aku harap dia kini bisa membeli jaket dan kendaraan yang layak,’’ cerita Gallop.

Kisah itu dibagikan Gallop di situs lokal fans Milwaukee Bucks, Brew Hoop, pada 2014. Lalu, kembali viral saat Antetokounmpo meraih gelar MVP NBA pertamanya pada 2019. Dan perlu dikenang bagi siapa pun sebagai inspirasi. Itu setelah Rabu lalu (21/7) Antetokounmpo menggenapi prestasinya dengan membawa Bucks meraih gelar juara NBA 2021.

Kurang pas membaca cerita sukses pemain 26 tahun itu tanpa tahu perjuangannya yang berdarah-darah sebelum menjadi bintang paling tenar di NBA seperti sekarang. Dia bersama orang tua dan empat saudara laki-lakinya sudah kenyang hidup miskin di Yunani. Sebagai keluarga imigran asal Nigeria, kondisi ekonomi keluarga Antetokounmpo jauh dari kata layak. Antetokounmpo dan saudara-saudaranya harus berjualan barang-barang kaki lima seperti tas, jam tangan, dan kacamata di jalanan Athena untuk membantu orang tua mencari nafkah.

Antetokounmpo belum punya status kewarganegaraan sampai berusia 18 tahun. Nasibnya berubah setelah berkenalan dengan basket. Spiros Velliniatis, pelatih basket tim lokal Yunani, Filathlitikos, yang pertama menemukan bakat Antetokounmpo. Pada 2008, Velliniatis sedang berkeliling di kawasan kumuh Kota Athena, Sepolia, untuk mencari bakat-bakat muda dari anak-anak komunitas imigran di kota tersebut. Matanya tertuju ke anak jangkung kurus berusia 13 tahun yang saat itu sedang bermain sepak bola bersama rekan-rekannya.

Cerita setelahnya adalah kerja keras, kegigihan, dan keajaiban. Pada 2011, Antetokounmpo sudah menembus tim senior Filathlitikos untuk tampil di liga basket profesional Yunani. Tak butuh waktu lama hingga bakatnya terendus tim pencari bakat NBA yang mengundangnya mengikuti NBA Draft 2013.

 

Family Boy

Sesaat setelah buzzer game keenam NBA Finals berbunyi di Fiserv Forum Rabu (21/7), di tengah riuh selebrasi rekan-rekan setimnya maupun penonton yang tumpah ruah di lapangan, Antetokounmpo memilih berjalan melipir sendirian ke pinggir lapangan. Orang pertama yang dia cari adalah ibunya. Sosok yang telah menantinya di sisi lapangan. Keduanya berpelukan erat sekali.

Setelah itu, dia memilih duduk sendirian di salah satu bangku pemain Bucks. Matanya berkaca-kaca sambil menerawang ke langit-langit Fiserv Forum. Semua perjuangan panjangnya kini terbayar lunas. ’’Aku memulai basket hanya dengan niat membebaskan keluargaku dari kemiskinan. Sejak itu aku hanya menikmati setiap prosesnya. Dan kini, di usia 26 tahun, aku sudah memiliki dua gelar MVP dan juara NBA,’’ ucap Antetokounmpo dilansir ESPN.

Jika Profesor Gallop ada di tengah kerumunan penonton yang berpesta di Fiserv Forum Rabu lalu, dia pasti mengamini bahwa doanya kini sudah terkabul. Sekarang, Antetokounmpo tak sekadar mampu membeli jaket tebal dan mobil yang layak. Lebih dari itu. (*)