Selama tiga semester, atau tepatnya setahun empat bulan ke belakang, sekolah berlangsung melalui dalam jaringan (daring). Rencana kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) beberapa kali hendak berjalan penuh. Sayangnya, wabah yang kembali melonjak membuat PTM diurungkan.

 

SAMARINDA–Surat instruksi Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda Nomor 841.2/4295/100.01 tentang Pemberlakuan Work from Home (WFH) dan Penundaan PTM, serta pelaksanaan kegiatan-kegiatan pendidikan dalam masa pemberlakuan PPKM di lingkungan Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda 2021 telah dikeluarkan pada 7 Juli lalu. Di mana membuat 71 sekolah yang siap melaksanakan PTM kembali ditunda. Sebanyak 14 sekolah yang sebelumnya telah menjalankan PTM pun kembali ditutup.

Dalam surat instruksi tersebut berjalan atau tidaknya PTM dilihat dari perkembangan wabah Covid-19 di Kota Tepian hingga kemarin. Namun, per hari ini hingga 31 Juli mendatang, ibu kota Kaltim resmi berstatus PPKM level empat. Kebijakan teranyar disampaikan melalui rapat koordinasi evaluasi penerapan PPKM di Indonesia yang digelar virtual pada Senin (19/7) lalu, yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dikonfirmasi terkait nasib PTM di Samarinda, Kepala Disdik Samarinda Asli Nuryadin menerangkan, pihaknya masih menanti kebijakan wali kota. Namun, jika melihat perkembangan yang ada, PTM bisa saja kembali ditunda. "Belum tahu lagi langkah dari pemkot, tapi kalau lihat kondisinya bakal diperpanjang (PTM ditunda). Kalau belum ada izin atau pencabutan status sebelumnya kan enggak mungkin turun sekolah," ungkapnya, kemarin (20/7). Dalam surat instruksi yang dikeluarkan, lanjut Asli, sejatinya penundaan PTM juga sambil melihat perkembangan masa pandemi. Jika terus mengalami peningkatan, tentunya PTM ditunda. Begitu pula saat ini, lonjakan kasus yang masih meningkat, ditambah ditetapkan PPKM level empat membuat rencana PTM ditunda.

"Kalau memang keadaan membaik ya kami ajukan permohonan (PTM) ke pak wali kota, tapi kalau lihat sekarang ya kondisinya enggak mungkin. Jadi, ikuti yang lama saja (belajar via daring), karena jangankan dari kami, pemkot saja belum ada keputusan," ucapnya.

Asli menegaskan, meski PTM kembali ditunda, program vaksinasi ke tenaga pendidik tetap akan berjalan. Meski saat ini vaksin baru diterima separuh dari 10.600 guru yang ada di Samarinda. "Walau masuk skala prioritas karena jumlahnya vaksin sedikit. Data terakhir yang divaksin itu baru sekitar 50 persen," bebernya.

Jika jumlah vaksin yang diterima selalu sama, program vaksin di dunia pendidikan akan memakan waktu yang lebih lama. Terlebih kini muncul kebijakan vaksinasi yang menyasar murid yang berusia 12–17 tahun. Di mana pada Senin (19/7) lalu murid di SMP 36 yang menjadi yang pertama mendapatkan vaksinasi. "Vaksin untuk siswa ini memang luar biasa sekali. Itu kan baru saja BPOM dan Presiden mengeluarkan kebijakan. Sebelumnya kami enggak kepikiran untuk murid juga, karena jumlahnya banyak, sekitar 30 ribuan. Itu baru SMP. Untuk vaksin guru saja kita terengah-engah, karena stok vaksin terbatas," jelasnya. Melihat ketersediaan vaksin yang mengarah ke dunia pendidikan, Asli berharap pasokan vaksin dapat ditingkatkan. Sebab, saat ini vaksin murid mulai dijalankan. "Memang perlu semacam intervensi, dalam artian dari kementerian yang ikut bantu ke dunia pendidikan," tegasnya.

Termasuk di SMP 18, Kecamatan Samarinda Seberang, menerima penyuntikan vaksin Covid-19 tahap pertama Senin (19/7). Kegiatan itu menargetkan 500 dosis vaksin yang disalurkan khususnya untuk remaja di rentang usia 12–17 tahun.

“Persiapan sekolah kami terus jalan. Bahkan pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) 71 sekolah sudah 95 persen menerima vaksin. Untuk siswa sekolah baru sekolah itu yang pertama,” ucapnya. Gerakan vaksinasi sangat penting termasuk jika diinisiasi berbagai pihak. Sebab, jika menunggu jatah reguler dari pemerintah melalui Dinas Kesehatan perlu waktu lama.

Sementara itu, Kepala SMP 36 Tuti Susandra Dewi menerangkan, pihaknya menghimpun 338 siswa dari dua sekolah termasuk SMP 18 yang terdekat, dan kebetulan dirinya menjabat plt kepala sekolah untuk menerima vaksin tahap pertama. Meski siswa yang ikut dimulai dari kelas VII, VIII, IX, tetapi tidak seluruhnya terakomodasi, terutama siswa kelas VII yang usianya belum mencapai 12 tahun, serta siswa lain yang memiliki sakit bawaan. “Total vaksin yang disalurkan dalam agenda Senin (19/7) sebanyak 450 dosis. Selain siswa, 112 dosis diberikan kepada PTK yang belum vaksin dan keluarga,” ucapnya.

Dia berharap vaksin kedua nantinya bisa digelar kembali di gedung sekolah, sehingga memudahkan pihaknya untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan dalam menunjang pelaksanaan serta kemudahan untuk mengumpulkan siswa. “Sekolah kami termasuk yang siap melaksanakan PTM. Bahkan 90 persen lebih orangtua siswa mendukung. Saat rencana pelaksanaan vaksin ini juga kami sebelumnya meminta persetujuan orangtua siswa. Hampir seluruhnya mendukung,” tutupnya. (*/dad/dns/dra/k16)