SANGATTA - Pengembangan wisata yang dicanangkan oleh Dinas Pariwisata Kutai Timur (Kutim) akan segera dilakukan. Yakni dengan membagi menjadi tiga zona pembenahan. Salah satu pariwisata terdekat adalah Pantai Teluk Lombok Sangatta Selatan. Namun, rencana perbaikan ini menuai pro-kontra di kalangan masyarakat.

Diketahui, pantai ini dipenuhi dengan bangunan milik warga yang berdagang atau bermukim, sehingga tempat wisata ini menjadi tidak tertata. Bahkan, berulang kali pembahasan pembenahan telah dibahas pada Musrenbang Sangatta Selatan selama bertahun-tahun, tapi tidak dapat terealisasi hingga saat ini.

Salah satu warga setempat yang enggan disebut namanya menyebut keberatan jika bangunannya digusur. Pasalnya, dirinya mengaku bukan hanya bermukim, melainkan berjualan untuk mencari penghidupan.

"Saya sudah tinggal puluhan tahun di sini, masa mau digusur, saya harus jualan di mana lagi untuk cari makan," ungkapnya.

Tidak hanya itu, kata dia, kondisi pandemi Covid-19 cukup menyulitkan dirinya dan keluarga. Sebab, tempat pariwisata telah ditutup, sehingga tidak ada pengunjung yang datang.

"Tidak ada yang datang ke sini, barang dagangan kedaluwarsa semua, terus mau disuruh pindah lagi, gimana nasib ini," tandasnya.

Tidak hanya itu, ia juga meminta keadilan pada pemerintah. Agar pembangunan dilakukan secara merata, mengingat adanya salah satu bangunan permanen milik pejabat daerah.

"Kalau mau bongkar kami, harus adil, bongkar dulu rumahnya pejabat yang ada di pantai, baru rumah kami," pintanya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Kutim Nurullah membenarkan wacana pembenahan Pantai Teluk Lombok. Menurut dia, warga yang menetap di kawasan pasir pantai akan direlokasi. Hingga memudahkan untuk penataan kembali.

"Teluk Lombok akan ditata dengan baik, warga yang tinggal akan dipindah ke sebelah jalan," jelasnya pada harian ini.

Sebelumnya, dia juga menyampaikan penatakelolaan juga akan dilaksanakan di zona lain. Yaitu zona 1, lanjut dia, wisata yang berada di wilayah Sangatta seperti Taman Nasional Kutai Kawasan Prevab. Tempat wisata ini memiliki keunikan tersendiri, selain hutannya yang masih alami, habitat asli layaknya orang utan dan tarantula dapat ditemui dengan mudah. Sayangnya, tidak banyak warga yang mengetahui kekayaan alam satu ini.

"Prevab memiliki potensi yang sangat luar bisa,” ujar Nurullah.

Sementara di zona 2, jelas dia, Karst Sangkulirang Mangkalihat menjadi wisata terbaik yang akan diperketat penjagaannya. Mengingat kekayaan alam yang satu ini sangatlah langka dan harus dijaga kelestariannya, serta sangat mudah terancam kerusakan.

“Di situ ada telapak tangan yang menurut penelitian usianya mencapai 40 ribu tahun, dan ini sudah menjadi tentatif situs warisan dunia UNESCO,” bebernya. Pariwisata ini bukan hanya menjadi aset Kutim, tetapi juga aset nasional bahkan dunia. "Sehingga ini harus kita kembangkan untuk bisa mengangkat pendapatan asli daerah,” ungkap Nurullah.

Selanjutnya, di kawasan zona 3 terdapat Gua Kongbeng. Pelestariannya pun menjadi perhatian. Gua yang memiliki nilai-nilai sejarah dengan adanya arca dan patung-patung tersebut pun belum dikenal publik secara meluas. Kealamiannya juga menjadi ancaman jika tidak dilindungi dan diperhatikan.

“Gua ini sangat erat dengan kisah Raja Mulawarman, yang membawa arca dan patung-patung untuk tinggal di Gua Kongbeng, sejarah yang luar biasa ini yang mesti diperhatikan,” ujar ia. (*/la/far/k16)