TANJUNG SELOR ­- Menteri Pertanian (Mentan), Dr. H. Syahrul Yasin Limpo menilai bahwa programfood estate yang dikembangkan di Bulungan hanya sebatas hanya sebatas khayalan.

Menanggapi hal itu, Bupati Bulungan, Syarwani mengakui bahwa salah satu kendala yang paling krusial saat ini adalah infrastruktur. “Kita tidak bisa memungkiri hal itu. Iya, mudahan program yang berkaitan dengan upaya peningkatan infrastruktur menjadi bagian percepatan,” kata Syarwani kepada Radar Kaltara, Senin (13/9).

Melalui komitmen Gubernur Zainal Arifin Paliwang, daerah ini dipastikan akan membangun kolaborasi bersama untuk mewujudkan kawasan pangan tersebut. “Beberapa waktu lalu, Bapak Gubernur juga sudah mencanangkan Desa Sajau Hilir sebagai kawasan produksi pangan di Indonesia. Mudahan, ini juga bisa melebar ke kawasan lain. Khususnya, kawasan food estate,” harapnya.

Diharapkan, ke depan ada kolaborasi bersama. Tidak hanya dilakukan Pemkab Bulungan, tetapi juga berkolaborasi dengan Pemprov Kaltara maupun Kementerian Pertanian (Kementan). Dalam hal ini dirinya juga berharap nantinya ada program kementerian yang bersinergi dengan upaya pengembangan kawasan pangan tersebut. Secara usulan, hal itu sudah disampaikan.

“Mudahan saja ada respons dari kementerian walaupun nantinya tidak bisa selesai secara keseluruhan. Tetapi, paling tidak ada langkah awal maupun langkah prioritas yang sudah dilakukan di kawasan pangan tersebut,” ujarnya.

Bagaimanapun, Pemkab Bulungan akan tetap berkomitmen sesuai visi misi daerah agar kawasan pangan ini bisa produktif dan menghasilkan. “Nanti, kawasan pangan ini akan menjadi kawasan yang sangat terbuka ke depannya,” ujarnya.

Dalam hal ini, pihaknya juga berterima kasih kepada Mentan yang sudah datang langsung ke Bulungan. Walaupun yang dikunjungi bukanlah kawasan pangan food estate. Tetapi, sektor lainnya mendapat atensi. “Tidak semua daerah seperti itu. Bulungan termasuk yang paling beruntung karena sudah menjadi atensi langsung dari Menteri Pertanian,” ujarnya.

Sekarang ini tinggal bagaimana niatnya. Bahkan, Mentan menargetkan ada ada 200 titik peternakan kambing boer yang dikembangkan di Bulungan Mandiri Farm (BMF) di Desa Apung, Kecamatan Tanjung Selor Bulungan. “Tinggal bagaimana kita merespons,” ujarnya.

Pihaknya berharap ada kelompok masyarakat yang bergerak di sektor peternakan maupun pertanian melakukan hal yang sudah dilakukan BMF. “Bapak Menteri juga meminta agar TNI/Polri bisa berkolaborasi dalam rangka penguatan pangan,” ujarnya.

Diberikan sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan), Dr. H. Syahrul Yasin Limpo saat dikonfirmasi mengatakan, sekarang ini Kementan masih konsentrasi untuk mengembangkan potensi yang ada sekarang ini. “Tidak, kita konsentrasi dengan apa yang ada sekarang. Jangan kita mengkhayal yang lebih tinggi lagi,” kata Syahrul kepada Radar Kaltara, Sabtu (11/9).

Namun demikian, food estate masih bisa berjalan. Tetapi, sekarang ini Kementan fokus untuk mengembangan potensi pertanian maupun peternakan yang ada di Kaltara dahulu. “Potensi pertanian dan peternakan di Kaltara ini sangat bagus. Jadi, itu dahulu yang kita fokuskan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara, Wahyuni Nuzband mengatakan, sebelumnya memang sudah ada rencana untuk mengekspos food estate ini. Namun, karena isu nasional. Kementan harus melakukan penelitian terlebih dahulu. “Jadi, kami sudah membuat semacam buklet untuk disampaikan kepada mereka (Kementan) bahwa kawasan food estate itu layak sebagai kawasan pengembangan pangan,” ujarnya.

Namun, kata dia, untuk bisa dinyatakan layak sebagai kawasan food estate ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Sejauh ini, masih ada yang belum terpenuhi. Salah satunya, terkait sarana prasarana. “Iya, seperti kita ketahui bahwa kawasan food estate yang ada di Bulungan ini sebagian besar berada di Desa Tanjung Buka. Sarana prasarana belum sepenuhnya terbangun,” ungkapnya.

Namun demikian, pihaknya memastikan tidak akan putus semangat dan akan terus memajukan kawasan food estate tersebut. “Jadi, memang kita ada dilema. Iya, ada sesuatu yang sudah bagus. Tinggal sentuhan sedikit infrastruktur atau mulai dari nol. Jadi, pilihan yang sulit,” ujarnya.

Apalagi, dari sisi pembiayaan untuk kawasan food estate ini membutuhkan biaya yang cukup besar. “Sebetulnya, dari Kementerian Pertanian sudah ada lampu kuning terkait food estate ini,” ungkapnya.

Bahkan, pembahasan sudah dilakukan dua kali. Pertama, pembahasan dengan Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan dan Pusat Penelitian Pengembangan (Pusliltbang). “Ada beberapa kabupaten yang mengajukan food estate. Tetapi yang paling luas itu di Bulungan seluas 43 ribu hektare (ha). Sementara, di daerah lain hanya seluar 10 ribu hektare,” ungkapnya.

Meskipun luasanya kecil. Namun, kondisinya bagus. Sebetulnya, bisa saja 43 ribu ha diambil di wilayah Tanjung Palas Utara yang memang sudah layak. Tetapi, hal itu masih menjadi pertimbangan. “Itu masih menjadi bahan pertimbangan kami,” bebernya.

Sebetulnya, dengan adanya kunjungan Mentan ke Kaltara ini menjadi momen bagi daerah untuk menyampaikan dukungan pertanian. “Saya sudah sampaikan ke Ditjen Hortikultura untuk mendukung benih bawang,” ujarnya. Khusus untuk food estate, Kementan meminta agar daerah selalu melaporkan progres di lapangan. Dalam hal ini, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pihak kabupaten maupun pemerintah pusat.

Terpisah, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Timur (BPTP) Kaltim, Dr. Fausiah T. Ladja mengatakan, terkait food estate sebelumnya memang sempat diusulkan untuk dilakukan pengkajian. “Tetapi, sekarang ini kami masih menunggu kepastian,” ujarnya.

Sebab, sampai saat ini Kementan belum merespons terkait pengembangan food estate tersebut. Kemungkinan, hal itu disebabkan karena refocusing anggaran dampak Covid-19. “Kami saja di BPTP kena refocusing berkali-kali. Jadi, sekarang ini pemerintah masih fokus untuk menanggulangi pandemi Covid-19,” pungkasnya. (*/jai/eza)