SAMARINDA - Kinerja intermediasi perbankan di Kaltim mengalami penurunan di tengah perbaikan kualitas pembiayaan. Sejalan dengan bank konvensional, kinerja intermediasi perbankan syariah juga mengalami kontraksi pertumbuhan, dibarengi risiko pembiayaan yang relatif rendah. Penurunan ini menyebabkan pangsa pembiayaan syariah terhadap total pembiayaan perbankan menurun.

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) Kaltim pada triwulan I 2021, tercatat tumbuh sebesar 7,57 persen (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,76 persen (yoy). Sedangkan pertumbuhan pembiayaan mengalami kontraksi sebesar 5,21 persen (yoy), lebih dalam dari triwulan sebelumnya yang tercatat terkontraksi sebesar 2,95 persen (yoy).

“Kinerja pembiayaan syariah Kaltim triwulan I 2021 terkontraksi 7,31 persen (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh positif sebesar 3,43 persen (yoy),” tutur Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono, Senin (12/7).

Dia menjelaskan, dengan relatif dalamnya kontraksi pembiayaan syariah menyebabkan pangsa pembiayaan syariah terhadap total pembiayaan perbankan tercatat 5,54 persen, menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6,08 persen. Penurunan pembiayaan tidak disertai penurunan non-performing financing (NPF). “Risiko perbankan syariah malah memburuk,” ungkapnya.

Hal ini ditunjukkan dari peningkatan rasio NPF menjadi 4,88 persen, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 4,29 persen. Nilai rasio NPF tersebut berada di atas rasio NPL pembiayaan Kaltim sebesar 3,98 persen. Sehingga dari sisi kualitas pembiayaan, risiko pembiayaan syariah Kaltim perlu mendapatkan perhatian.

NPF perbankan syariah di Kaltim masih tinggi tentunya ada beberapa faktor. Salah satunya karena tingkat literasi masyarakat masih rendah terkait keuangan dan ekonomi syariah. Kejadiannya masyarakat cenderung masih membanding-bandingkan lebih untung mana menggunakan perbankan syariah, atau perbankan konvensional.

Perbankan syariah di Kaltim masih memiliki pekerjaan rumah, dibutuhkan konsistensi untuk meningkatkan literasi keuangan syariah di Kaltim. “Namun, DPK perbankan syariah Kaltim tercatat mengalami peningkatan. DPK perbankan syariah tumbuh positif sebesar 22,93 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 17,24 persen (yoy),” pungkasnya. (ctr/ndu/k15)