SAMARINDA–Jalan rusak di Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, masih menjadi momok bagi warga yang melintas di jalur ini. Kemacetan kerap terjadi, karena jalan rusak yang disebabkan pengupasan lahan dan jalan umum yang dipakai sebagai jalur hauling batu bara. Saat Ramadan lalu, kemacetan di kawasan ini bisa mencapai empat jam.

Selain perbaikan jalan, saat ini Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) membangun gorong-gorong. Sehingga jalan tak mudah rusak akibat luapan air ketika hujan deras.Kepala Satker II BBPJN Kaltim Andre Sahat Tua Sirait menjelaskan, pemeliharaan jalan terus dilakukan. Seperti menambah material timbunan pilihan dan agregat kelas A. Hal ini dilakukan sambil menunggu umur beton cukup untuk dilakukan penanganan lanjutan.

"Di samping itu juga pengerjaan cross drain (box culvert) juga sedang berlangsung (pracetak)," terang Andre kepada Kaltim Post.Dia menambahkan, diperkirakan dalam jangka satu bulan ini pemasangan saluran beton dan box culvert segera dimulai setelah umur beton cukup. Bersamaan dengan pemasangan saluran beton, pengecoran badan jalan pun dimulai.Anggaran yang diserap untuk pengerjaan jalan ini sebesar Rp 223 miliar.

Pelaksanaan pekerjaan jalan ini dilakukan sampai 2023. Tetapi khusus jalan dari Bandara APT Pranoto Samarinda ke SP 3 Sambera, Kutai Kartanegara, akan diupayakan selesai tahun ini.Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang mengeluh ketika melewati jalur Tanah Datar. Andre menjelaskan, kemacetan itu bisa jadi banyak faktor. "Bisa jadi terkait sedang dilakukannya pelaksanaan pemeliharaan jalan, curah hujan yang tinggi, banyaknya kendaraan yang melewati ruas tersebut, dan aktivitas tambang. Kami sedang maksimalkan pekerjaan di lapangan, mudah-mudahan dalam 1–2 bulan sudah lancar," sambungnya.

Selain lalu lintas kendaraan yang kelebihan beban, kerusakan jalan poros Samarinda-Bontang diduga karena drainase yang tidak optimal. Sehingga jalanan kerap kebanjiran. Ditambah tanah longsor dari pengupasan lahan yang ada di sisi kanan-kiri jalan, membuat kerusakan tambah parah. Kepala BBPJN Kaltim Junaidi menuturkan, khusus di Tanah Datar, kemacetan yang terjadi beberapa waktu lalu disebabkan badan jalan yang digali masyarakat. Sebab, ada banjir sehingga mereka mengalirkan air dari kanan ke kiri badan jalan.

Aktivitas itu tanpa koordinasi kepada pihaknya hingga menyebabkan jalan berlumpur."Sekarang sudah diperbaiki. Insyaallah satu minggu ke depan pekerjaan sudah mulai full di lapangan karena sebagian alat sudah dimobilisasi," papar Junaidi.Masalah aliran air dan banjir memang menjadi momok di jalan ini. Sehingga box culvert untuk mengalirkan air segera dipasang. Pihaknya menyiapkan sekitar 30 titik cross drain (saluran drainase melintang) dengan panjang tiap titik 12 meter.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim Arih Franata Filipus Sembiring berharap, pengerjaan jalan di Tanah Datar ini segera rampung. Sehingga, roda mobilisasi masyarakat di Kaltim bisa kembali nyaman. Menurut dia, momen pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Kaltim saat ini semestinya bisa dimanfaatkan karena berkurangnya mobilitas masyarakat."Kalau dari kami, tentu saja berharapnya lebih cepat lebih baik. Hanya saja, kan pengerjaannya memang dilakukan BBPJN," sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim Christiannus Benny mengatakan, terkait kerusakan jalan di Tanah Datar, pada dasarnya tambang yang memiliki konsesi di Tanah Datar sudah melakukan kegiatan pertambangan sesuai aturan. "Yang jadi masalah adalah pematangan lahan masyarakat karena berada di kawasan tidak berizin," jelasnya.

Tambang ilegal pun diduga bermain di kawasan itu. Selain melakukan pengupasan lahan, para pelaku tambang ilegal kerap menggunakan jalan umum untuk jalur hauling. Sehingga mengakibatkan kerusakan jalan. Benny mengatakan, pihaknya telah mengumpulkan data. Dari berbagai hasil koordinasi, sudah dikumpulkan 26 titik tambang ilegal. Hal ini, berdasarkan laporan dari para pemilik konsesi."Itu termasuk juga yang di Tanah Datar," kata dia.

Urusan tambang ilegal yang merusak jalan memang sempat membuat Gubernur Kaltim Isran Noor geregetan. Dia pun sempat mengeluarkan uneg-unegnya pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-42 Kaltim di Bontang, Juni lalu. Dengan nada tinggi, Isran menyebut jalan rusak sepanjang jalur Samarinda–Bontang karena tambang ilegal.

"Pokoknya Jalan Samarinda–Bontang, kita lihat kiri-kanan (tambang batu bara) itu enggak ada izin. Belum lagi Sebulu-Muara Kaman. Hancur jalan, hancur. Kadang-kadang saya kesal sebenarnya," kata dia. (nyc/riz/k8)