FAKTA

Anestesi dan vaksin memiliki tujuan berbeda. Tidak ada bukti ilmiah bahwa anestesi atau bius memicu kematian jika diberikan kepada orang yang telah menerima vaksin Covid-19.

 

KABAR larangan penggunaan anestesi atau bius setelah vaksinasi cukup masif menyebar di grup WhatsApp. Disebutkan bahwa semua jenis anestesi atau bius, termasuk anestesi lokal maupun yang biasa digunakan dokter gigi, tidak boleh diberikan kepada orang yang baru saja divaksin. Jika tetap diberikan, bisa mengakibatkan kematian.

Kabar itu juga dibagikan akun Facebook Syahputra Abanknxarjoena pada 18 Juni 2021. Dia menambahkan keterangan bahwa anestesi baru dapat dilakukan setelah empat minggu seusai vaksinasi. Bahkan diceritakan ada seseorang yang baru vaksin, lalu pergi ke dokter gigi dan melakukan anestesi, akhirnya meninggal dunia (bit.do/BisaMeninggal).

Dokter Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Muhammad Ikhtiar Zaki Al Razzak mengatakan bahwa kasus kematian dalam pesan itu perlu diperjelas. Pasalnya, hingga kini tidak ada interaksi antara vaksin dan obat anestesi apa pun. ”Itu menyesatkan. Vaksinasi dan anestesi itu memiliki tujuan yang berbeda dan nggak ada hubungannya,” katanya.

Dia menambahkan, kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) bisa terjadi hingga range satu bulan setelah vaksin. Kejadian-kejadian buruk dalam rentang waktu itulah yang sering dikaitkan dengan vaksin oleh masyarakat. Padahal, belum tentu memiliki hubungan sebab-akibat.

Kabar keliru itu ternyata juga menyebar dengan menggunakan bahasa asing. Situs Health Analytics Asia mengulasnya pada 28 Juni 2021 dengan judul False post about the use of anesthesia circulates in India: No link between anesthesia and COVID-19 jab. Situs itu mengutip penjelasan Dr Naveen Malhotra MD, seorang pakar anestesi dari Pandit Bhagwat Dayal Sharma Post Graduate Institute of Medical Sciences, India. ”Tidak ada bukti ilmiah untuk membuktikan ini. Semua jenis anestesi dapat diberikan dengan aman oleh ahli anestesi yang berkualifikasi setelah vaksinasi Covid-19,” tuturnya.

Indian Society of Anesthesiologists (ISA) juga membantah klaim tersebut dan mengimbau masyarakat umum untuk berpedoman pada informasi yang jelas. “ISA mengimbau masyarakat umum untuk mengabaikan pernyataan palsu seperti itu dan mendapatkan vaksinasi tanpa rasa takut,” paparnya.

Sementara itu, portal milik perusahaan teknologi sosial nirlaba asal Amerika Serikat, health-desk.org, menyatakan tidak ada bukti bahwa anestesi lokal dan umum mengancam jiwa orang yang telah mendapatkan vaksin Covid-19. Produsen vaksin juga belum mengeluarkan label peringatan tentang bahaya penggunaan obat bius setelah mendapatkan vaksin Covid-19. Anda dapat membacanya di bit.do/TidakAdaHubungan. (zam/c6/fat/jpg/dwi/k16)