PADA masa pandemi ini, koperasi memang juga terdampak. Meski begitu, asa untuk terus mengembangkan koperasi di Kaltim masih terus ada. Salah satunya melalui anak muda, yang dirasa memiliki semangat dan ide segar untuk mengembangkan koperasi pada era kiwari.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop UKM) Kaltim Yadi Robyan Noor mengatakan, hal itu selaras dengan jargon Hari Koperasi Nasional tahun ini. “Temanya menyasar anak muda dengan jargon gaul yaitu Untung Bareng Koperasi,” kata pria yang akrab disapa Roby itu.

Dia menambahkan, perkembangan koperasi yang saat ini merangkul usaha kecil dan menengah (UKM) sebenarnya cukup besar. Saat ini ada sekitar 76 ribu anggota koperasi. Tetapi, manfaat koperasi tentu saja tak hanya dinikmati 76 ribu orang itu. Masih banyak elemen yang mendapatkan manfaat dari koperasi. Sebab, volume usaha yang terdata dari berbagai koperasi itu mencapai Rp 846 miliar.

Meski diakui, pandemi ini membawa dampak pada lesunya ekonomi. Namun, pihak Disperindagkop UKM Kaltim masih terus melakukan pendampingan dan pembinaan bagi koperasi-koperasi tersebut.

Tiap koperasi tentu pembinaan dan pendampingannya berbeda, bergantung musabab masalahnya. Misal, ada pelatihan, juga ada upaya pembinaan mengintegrasikan koperasi-koperasi yang sedang lemah, dengan proses integrasi itu diharapkan, koperasi lebih kuat.

Berbagai sektor mungkin terdampak akibat pandemi ini. Seperti pariwisata dan sebagainya. Namun, ada beberapa sektor lain yang justru meningkat saat pandemi ini. Seperti kuliner yang saat ini banyak dipasarkan secara online, hingga koperasi-koperasi yang bergerak di bidang teknologi lainnya ataupun UKM start up. “Sektor ini cukup meningkat saat pandemi. Sektor ini perlu penggerak. Biasanya anak muda yang mau terjun ke sektor ini,” imbuhnya.

Pelaku UKM diharapkan bisa bergabung dalam koperasi karena ketika mereka tergabung dalam koperasi, kemungkinan mendapatkan kredit dari bank lebih besar. Dengan begitu, sektor UKM bisa berkembang pesat, dengan modal yang cukup.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, koperasi idealnya suatu bentuk usaha yang bagus dan sesuai ciri khas bangsa yang terkenal dengan gotong royongnya. Koperasi yang dijalankan dengan baik bisa melahirkan kegiatan ekonomi yang demokratis dan berkeadilan untuk mencapai manfaat dan kesejahteraan bersama anggotanya. Hal itu karena di koperasi, semua punya hak yang sama yaitu satu orang memiliki satu suara.

“Koperasi memiliki landasan hukum yang kuat di Indonesia. Hal ini mestinya koperasi bisa berkembang pesat jika diberikan ruang untuk berkembang, didorong agar lebih kreatif, dan inovatif serta dikelola dengan baik dan profesional,” terangnya.

Jika digerakkan oleh orang-orang, termasuk anak-anak muda yang kreatif dan memiliki semangat untuk menerapkan ekonomi kerakyatan yang berkeadilan, koperasi akan lebih berjaya pada masa depan seperti banyak korporasi besar di era digital ini.

Zaman sekarang, menurut dia, koperasi harus mampu bersinergi untuk meningkatkan kapasitas dan daya saingnya untuk masuk ke sektor-sektor produktif dan jadi keperluan banyak orang. Dengan maju dan bersinerginya gerakan koperasi yang dikelola secara amanah dan profesional, Tutuk yakin koperasi bisa memiliki jaringan perdagangan dan usaha-usaha produktif berskala menengah besar, sehingga benar-benar tumbuh ekonomi kerakyatan.

“Banyak contoh di belahan dunia lain. Kisah sukses usaha berbentuk koperasi karena dikelola dengan amanah dan profesional. FC Barcelona misalnya, merupakan usaha berbentuk koperasi yang dimiliki dan dikendalikan oleh 175 ribu orang,” sambungnya.

Dia juga menambahkan contoh lain seperti di Singapura yang punya jaringan minimarket/ supermarket sangat besar berbentuk koperasi dan dimiliki lebih 800 ribu konsumennya. Di Indonesia, koperasi kredit (Credit Union) misalnya, memiliki anggota jutaan dan mampu mengumpulkan modal puluhan triliun rupiah.

Tutuk melihat, mulai ada anak-anak muda di Indonesia yang aktif mendiskusikan dan bahkan mulai bergerak dalam berkoperasi. “Anak-anak muda yang melihat bahwa sistem ekonomi kapitalisme dan feodalisme dengan penguasaan ekonominya bahkan politiknya berlebihan, bisa merusak sistem demokrasi yang ideal. Mereka ingin agar ekonomi koperasi bisa membesar dan mengambil peran penting ke arah sistem kepemilikan bagi banyak orang. Agar pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan sekaligus mengurangi kesenjangan, kerusakan alam, serta eksploitasi kemanusiaan,” pungkasnya. (rom/k16)