MASIH hangat di ingatan Leory Feitya setelah mengikuti berbagai kursus make-up di Jakarta dan Bandung, memutuskan kembali ke Samarinda pada 2012. Kala itu, klien pertamanya di Jakarta menghargai hasil riasannya Rp 250 ribu. Hingga satu waktu, dia mendapat job merias sepuluh orang dayang atau bridesmaid.

“Kan ada sepuluh, ya alhamdulillah. Itu aku dari salon yang ajak. Selesai make-up, ternyata diupah Rp 500 ribu, berarti per orang Rp 50 ribu. Saat itu sih mikirnya, ya sudah toh lumayan. Tapi memang beda jauh apresiasi di Jakarta sama Samarinda waktu itu,” beber perempuan yang sering dipanggil Ory itu.

Meski begitu, Ory mafhum. Di Jakarta, masyarakatnya sudah lebih open minded tentang dunia rias wajah. Apresiasi terhadap skill atau kemampuan seninya juga lebih baik.

“Pernah waktu orang tanya harga jasa make-up, mereka langsung tanya saya pakai produk apa saja. Saya bilang, mau dari yang murah sampai mahal saya ada. Tapi saya make-up bukan tergantung murah-mahal produk, tapi untuk acara apa. Kan menyesuaikan,” jelasnya.

Dari situ, edukasi terkait jasa make-up perlu banyak diketahui orang. Khususnya bagi mereka yang berniat menggunakan jasa tersebut. Sebab tak semuanya paham. Sebagai contoh, ketika keluarga klien meminta riasan tipis, namun ternyata maksudnya wajah ter-cover.

“Jadi misal ada calon pengantin yang request minta wajahnya dimake-up tipis saja. Ternyata pas sudah jadi, katanya kurang kelihatan. Atau misal klien yang minta warna tone kulit wajahnya dinaikin atau dibikin putih. Padahal lehernya beda warna. Tentu kita edukasi, tapi kalau klien ngotot ya tetap dijalani. Syukurnya sih enggak ada yang komplain, karena di awal sudah dijelaskan,” jelasnya.

Selain itu, dia juga pernah beberapa kali diundang untuk menjadi guru mengajar kelas make-up di salah satu sekolah di Samarinda. Dalam penjelasannya, selain orientasi hasil yang baik, penting untuk menjaga attitude atau perilaku.

“Jadi yang kita tawarkan kan jasa. Jadi ya memang harus utamakan pelayanan yang baik juga. Harus meninggalkan kesan baik ke klien. Jadi misal nanti salah satu keluarganya suka dengan hasil kita, ya itu jadi rezeki untuk percayakan hasilnya ke kita lagi kan,” jelasnya.

Pengalaman demi pengalaman dilalui Ory. Diungkapkan, jika dia tak pernah mempermasalahkan bagaimana rupa-rupa perilaku klien yang dia hadapi. Termasuk mereka yang misal membatalkan sepihak. Dia hanya berusaha memberi penjelasan dengan santun.

“Namanya kita di bidang jasa, selain hasilnya juga tentu pelayanan atau attitude-nya yang jadi pertimbangan. Selain make-up, aku juga ada sewa baju. Untuk dekorasi enggak dulu. Tapi aku juga punya wedding organizer (WO), bukan yang komersil banget tapi alhamdulillah setiap bulan ada aja,” pungkasnya. (rdm)