Sejak umur lima, Leory dengan riang berlenggak-lenggok di atas panggung bak model. Itulah mengapa dia sudah akrab dengan dunia rias sejak dini. Ketika berseragam putih abu-abu, dia sudah mantap ikuti kursus. Seangkatan dengan mereka yang usianya dua kali lipat dari Leory.

 

CERITA itu perlahan mengalir dari mulut Leory atau karib disapa Ory. Dengan antusias, dia membeberkan awal mula kecintaannya terhadap dunia make-up artist (MUA). Mengenal dan paham berbagai alat pendukung kecantikan itu sejak kecil.

“Jadi waktu SMA kelas 2 rasanya, aku ikut kursus dan yang paling muda. Lainnya itu ada ibu-ibu, bahkan ada nenek-nenek juga yang ikut,” jelas perempuan kelahiran 1993 itu.

Lulus SMA, Leory kemudian menikah dan pindah ke Jakarta. Melihat potensi tersebut, sang suami kala itu mengarahkan Leory untuk sekalian ikut kursus di sana. Berbagai kelas kursus dia jabani.

Termasuk yang membekas hingga kini, yaitu kelas beauty trendsetter. Dia menjelaskan jika sang guru membeberkan bila kelak tren make-up akan bergeser. Lebih natural tanpa banyak sentuhan dengan corong kiblat ala Korea Selatan.

“Jadi blush-on tipis-tipis, terus foundation juga natural. Nah, bibir juga dibikin tipis warnanya. Sekarang aku langsung ingat, ternyata benar kata guruku. Sekarang tren make-up kan gaya ala Korea Selatan semua. Jadi orang-orang baru heboh, aku sudah tahu dari dulu,” jelasnya.

Setahun mendalami dunia make-up, Ory mulai menerima job. Saat itu orang belum terlalu akrab dengan MUA. Sebab hanya jasa rias yang ditawarkan. Umumnya orang memilih ke salon untuk tampil cantik dengan riasan, sekaligus pilihan gaun serta dekorasi.

Klien pertamanya dari Jakarta. Pada umumnya menerima permintaan make-up pesta. “Waktu sekitar 2012 itu satu klien sudah sekitar Rp 250 ribuan. Untuk tahun itu, sudah lumayan harganya karena di Jakarta. Orang di sana juga sudah mulai kenal jasa MUA,” beber Ory.

Kembali ke Samarinda, diakui jika tak ngoyo dalam mencari klien. Selain itu, dia juga tak pemilih. Dikatakan jika awalnya dia menawarkan ke temannya yang ingin pergi pesta, untuk dia rias.

“Jadi teman-teman SMA yang aku tawarin. Misal dia mau ke undangan, aku yang rias. Sampai adek-adek kelas mau pentas seni, itu juga aku tawarin. Dan guru-guru juga tahu aku, jadi ikut rekomendasiin,” ungkap alumnus SMA 1 Samarinda itu.

Kemudian dia ikut dengan salah satu salon di Sambutan. Dari situ, peluang untuk menerima jasa rias pengantin terbuka. “Jadi memang bertahap ya. Sekitar 2011 aku terjun, 2016 baru aku berani terima make-up wedding. Karena ilmu itu kan berjenjang,” jelasnya.

Setahun kemudian, namanya semakin dikenal. Merupakan salah satu puncak karirnya kala itu. Jasa MUA lain pun bermunculan. Termasuk mereka yang dulu menjadi murid Leory saat dia membuka private class make-up.

Kini dia sudah miliki studio make-up di rumahnya, Jalan Suryanata Ring Road 2 Samarinda. Menjalani hobi yang menjadi rupiah, keinginan hanya satu. Tetap eksis dan melayani klien, mewujudkan keinginan hari besar mereka. (rdm)