PROKAL.CO,

Sistem informasi rawat inap (Siranap) sebagai pusat informasi ketersediaan tempat tidur bagi pasien terpapar Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di seluruh rumah sakit, menandakan secara keseluruhan sudah penuh. Hal itu bisa berimbas ke tenaga kesehatan yang terlibat dalam penanganan pandemi di Samarinda.

 

SAMARINDA–Beban berat tengah dirasakan tim tenaga kesehatan yang merawat pasien terpapar Covid-19. Selain banyak kehilangan teman sejawat akibat pandemi, bayang-bayang kesulitan itu kembali menggelayut.

Hampir seluruh rumah sakit mulai kewalahan lantaran kapasitas tempat tidur bagi pasien Covid-19 sudah penuh. Menukil data Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda, bed occupancy rate (BOR) sudah 93,49 persen terhitung hingga Ahad (11/7). Bukan tanpa upaya, pemerintah terpaksa menarik “rem” agar bisa mengondisikan laju penyebaran virus corona lewat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro diperketat. Hampir setiap hari Satgas Covid-19 Samarinda melakukan penertiban. Termasuk membatasi akses masyarakat di pintu-pintu masuk Kota Tepian.

Melihat hal tersebut, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltim dr Nataniel Tandirogang menuturkan, hal tersebut sudah wajar dilakukan. “Kalau tidak begitu (pengetatan), kasihan fasilitas (rumah sakit atau pusat karantina) dan tenaga kesehatan. Sekarang saja sudah kewalahan,” ungkapnya. Disinggung perihal mendirikan fasilitas darurat khusus Covid-19, Nataniel menanggapi santai. “Kalau itu, pemerintah bisa saja menyediakan, mungkin bisa ‘disulap’ tempat tertentu. Tapi bagaimana dengan sumber daya manusia (SDM),” sambungnya.

Dia menyoal perihal tenaga paramedis (perawat). “Kalau tenaga medis (dokter) saya pikir cukup. Perawat itu sangat kelelahan lho, mesti standby 24 jam,” terangnya. Melihat lonjakan kasus yang terjadi, hal itu bisa berimbas ke pelayanan. Pasalnya, tak sedikit pula tenaga kesehatan yang terpapar bahkan hingga meninggal karena terpapar Covid-19. “Ketika mulai meningkat, diperketat itu perlu, tujuannya agar fasilitas kesehatan tidak kolaps. Jika itu terjadi, bakal membebani secara keseluruhan, termasuk pelayanan. Jika banyak nakes yang terpapar, pelayanannya pasti di bawah standar,” sambungnya.