TIMswakelola (Hantu Banyu) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda menemukan dua bidang tanah yang drainasenya menyempit, bahkan nyaris buntu. Hal itu setelah melakukan normalisasi di pekan kedua Juli Jalan P Suryanata, Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu.

Camat Samarinda Ulu Muhammad Fahmi membenarkan kondisi itu dan sudah meminta pemerintah Kelurahan Air Putih untuk berkoordinasi dengan ketua RT dan pemilik lahan. Dia sudah berkoordinasi dengan tim swakelola untuk bisa mendukung dengan mempersiapkan alat berat guna pembongkaran. "Informasinya pemilik bangunan tidak masalah drainase dibongkar. Kami juga tengah menunggu kabar dari tim swakelola, mereka juga punya jadwal tersendiri," ucapnya, (11/7).

Mengenai detail kegiatan, Kasi Pemerintah Kelurahan Air Putih Untari menyebut, sudah mendatangi lokasi lahan yang dimaksud, yakni di RT 35, dekat persimpangan Jalan Kadrie Oening arah Tenggarong, sebelah kanan. Dengan bantuan ketua RT, pihaknya mendapat persetujuan pemilik dua lahan untuk bisa melakukan pelebaran drainase. "Tapi pemilik meminta pemkot yang mengerjakan. Makanya kami laporkan lagi ke lurah untuk diteruskan ke camat dan PUPR," ucap Untari.

Kembali ke Fahmi, pihaknya sempat meninjau lokasi, diketahui ada masalah lain selain penyempitan drainase, yakni penyempitan di saluran drainase di belakang permukiman tersebut, yang mengarah ke aliran sungai yang bermuara di sistem sub DAS Karang Asam Kecil. "Kemarin hanya memantau normalisasi drainase. Kemudian ada warga melapor, dalam waktu dekat kami menurunkan tim untuk meninjau," ucapnya.

Kawasan tersebut memang rawan banjir, karena berada di dataran rendah dan terdapat anak sungai yang ukurannya kecil, sehingga untuk memetakan kebutuhan pembangunan untuk pencegahan banjir harus ditelusuri lebih dalam dengan bantuan warga sekitar. "Aliran air harus ditelusuri hulu ke hilirnya. Kalau memang di dalam gang misalnya terdapat genangan, tentu akan dicari penyebabnya. Jika memang ke depan perlu drainase tambahan tentu diusulkan. Tetapi jika bisa diselesaikan dengan kegiatan gotong royong, tentu lebih baik," tutupnya. (dns/dra/k16)