PROKAL.CO,

MELBOURNE- Rencana Australia-Singapura untuk membuka perbatasan dengan travel bubble harus pupus. Itu disebabkan lonjakan kasus Covid-19 di ibu kota Australia, Sydney. Menteri Perdagangan Australia Dan Tehan mengungkapkan bahwa penundaan itu mungkin berlangsung hingga akhir tahun. ’’Travel bubble ditunda karena penularan virus gelombang ketiga,’’ tegas Tehan pada Sydney Morning Herald. Perbatasan internasional tetap ditutup hingga pertengahan 2022 nanti.

Bulan lalu, kedua negara setuju untuk melakukan travel bubble pasca digelarnya Australia-Singapore Annual Leaders' Meeting yang ke-6. Saat itu Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dan PM Australia Scott Morrison berharap agar para pelajar adalah yang pertama melakukan perjalanan. Dengan begitu, mereka yang terjebak akibat penutupan perbatasan bisa melanjutkan pendidikannya.

Tapi rencana itu tinggal rencana. Sebab alih alih menurun, angka penularan Covid-19 di Sydney, New South Wales (NSW) justru meroket. Padahal kota tersebut sudah di-lockdown. Minggu (11/7) rekor 10 bulan tanpa korban meninggal Covid-19 di NSW harus kandas. Seorang perempuan 90an tahun asal Sydney, NSW meninggal karena virus SARS-CoV-2. Dia kehilangan nyawa hanya beberapa jam setelah dinyatakan positif. Penularan diduga kuat dari keluarganya sendiri.

Lockdown yang seharusnya dicabut 16 Juli nanti kemungkinan bakal diperpanjang. Perdana Menteri NSW Gladys Berejiklian sudah memperkirakan bahwa kasus di Sydney akan terus melonjak. Kemarin, ada 77 kasus baru di seluruh NSW. Itu adalah rekor tertinggi di wilayah tersebut.

’’Besok (hari ini, Red) dan beberapa hari setelahnya akan memburuk, jauh lebih buruk daripada yang kita lihat sekarang,’’ tegas Berejiklian seperti dikutip Agence France-Presse. Dia bahkan memperkirakan angkanya di atas 100 kasus. Dari 77 kasus itu, sebanyak 52 di antaranya dirawat di rumah sakit. Sebanyak 15 lainnya dirawat di ICU dan 5 orang lagi membutuhkan ventilator. Lima sisanya menjalani isolasi di rumah. ’’Jangan keluar rumah kecuali memang harus melakukannya. Kita sekarang ada di titik kritis,’’ jelas Berejiklian.

Sementara itu hasil poling yang dilakukan di Brasil menunjukkan bahwa penduduk mendukung pelengseran Presiden Jair Bolsonaro. Pemimpin 66 tahun itu disorot terkait kasus korupsi dan penanganan pandeminya yang amburadul. Survei yang dilakukan oleh Datafolha itu menunjukkan 54 persen penduduk Brasil mendukung langkah parlemen rendah untuk memproses pelengseran Bolsonaro. Hanya 42 persen saja yang menentang. Itu menunjukkan dukungan terhadap Bolsonaro kian berkurang. Sebab dalam poling serupa yang digelar Datafolha Mei lalu, jumlah yang mendukung dan menolak masih sama kuat.