SAMARINDA–Kurva kasus Covid-19 di Kaltim belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Sebaliknya, angka penambahan dari hari ke hari justru melonjak drastis. Seperti yang terjadi Kamis (8/7), penambahan kasus terkonfirmasi positif tercatat sebesar 979.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang 2021 atau dalam tujuh bulan terakhir. Kondisi itu membuat beberapa rumah sakit kewalahan akibat tingginya tingkat keterisian ranjang perawatan (bed occupancy rate/BOR). Setelah RSUD Beriman Balikpapan menutup layanan IGD pada Rabu (7/7), giliran RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda melakukan kebijakan serupa.

Kepala Biro Humas Setprov Kaltim M Syafranuddin menjelaskan, di rumah sakit milik Pemprov Kaltim itu, kapasitas ruang perawatan Covid-19 sudah penuh. Sementara di IGD RSUD AWS, pasien mengantre untuk bisa masuk ke ruang perawatan. Untuk mengantisipasi kondisi darurat yang membuat pasien menumpuk, Pemprov Kaltim akan menyiapkan tenda pelayanan.

Namun, upaya menambah ruang darurat terkendala tenaga kesehatan (nakes) yang ditugaskan. “Saat ini, RSUD AWS terpaksa belum bisa menerima rujukan dari RS (rumah sakit) lain dan kemungkinan besar terjadi penutupan sementara IGD AWS hingga pasien bisa didistribusikan,” terangnya. Penambahan kasus dalam beberapa hari terakhir yang merata di beberapa daerah di Kaltim, membuat tingkat keterisian ruang isolasi Covid-19 membeludak. BOR di Kota Samarinda dan Balikpapan sudah menyentuh angka 90 persen. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kaltim yang diakses kemarin, Balikpapan menjadi di kota yang ruang isolasinya paling padat. Padahal, di daerah ini justru memiliki ruang isolasi yang paling banyak. Ada 690 ruang isolasi yang tersedia, tetapi 680 sudah terisi. Bahkan ada rumah sakit yang merawat lebih dari kapasitasnya.

 Seperti RS Pertamina Balikpapan yang merawat 96 pasien positif padahal kapasitasnya hanya 86 bed. Kondisi di daerah lain tak kalah mengkhawatirkan. Di Kutai Barat, kemarin hanya menyisakan dua ranjang perawatan Covid-19. Adapun di Samarinda kemarin BOR sudah mencapai 90,70 persen. Di sisi lain, ruang perawatan intensif atau intensive care unit di Kaltim untuk perawatan pasien Covid-19 ada 200 ruangan. Namun, 154 di antaranya sudah terisi.

Tak berbeda jauh dengan rumah sakit, pusat isolasi di Kaltim pun hampir penuh. Dari 757 bed isolasi yang tersedia, 586 sudah terisi. Pusat isolasi ini tersebar di Balikpapan 3 tempat, Kukar 1 tempat, dan Samarinda 5 tempat. Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Padillah Mante Runa mengatakan, penambahan kapasitas rumah sakit tidak bisa langsung dilakukan. Meskipun rumah sakit masih mempunyai ruang ataupun bisa langsung menambah tempat tidur, tetapi tidak dengan tenaga kesehatannya. Padahal sebuah perawatan akan berjalan jika fasilitas dan tenaga kesehatannya ada.

"Waktu Maret dulu saja, waktu kasus sedang tinggi sekali juga, kita buka rekrutmen untuk relawan tenaga kesehatan, yang mendaftar sangat sedikit. Bantuan nakes dari pusat juga belum ada," jelasnya. Menurut Padilah, salah satu cara efektif dalam menekan penambahan kasus harian adalah disiplin menerapkan protokol kesehatan. Peran masyarakat sangat berpengaruh dalam memberi ruang di rumah sakit yang saat ini sedang sesak. Tanpa kerja sama masyarakat, seberapa pun jumlah kapasitas rumah sakit di Kaltim, maka tidak akan mencukupi dan akan selalu kelebihan kapasitas.

Terkait apakah lonjakan kasus kali ini disebabkan oleh varian baru Covid-19, seperti varian delta dari India, dirinya belum memastikan. Sebab, sekitar 400 sampel yang sudah dikirim ke Kementerian Kesehatan, sampai saat ini belum ada hasilnya. Padillah mengaku kesal karena kerap dilempar-lempar jika menanyakan hasil sekitar pemeriksaan sampel yang dikirim untuk dicek di laboratorium Kemenkes.

"Dari 1 Juni itu kami kirimkan. Sampai sekarang, kita dilempar-lempar saja. Apa tidak sudah 5 minggu lebih," terangnya kesal. Padahal, hasil sampel itu penting untuk mendeteksi Apakah ada varian baru di Kaltim atau tidak. Namun dia mengetahui bahwa varian baru ini memang lebih ganas dibandingkan varian sebelumnya. Maka dari itu, dia berharap, masyarakat di Kaltim bisa mematuhi protokol kesehatan dan harus memakai masker dengan benar ketika keluar rumah.

Di sisi lain, untuk mempercepat terbentuknya kekebalan kelompok di masyarakat, Kaltim kembali menerima 31.200 dosis vaksin Covid-19 yang dikemas dalam 3.120 vial vaksin. Vaksin-vaksin tersebut akan didistribusikan kepada kabupaten/kota sesuai dengan daftar yang diberikan pemerintah pusat. Jadi kemungkinan jumlah vaksin setiap kabupaten kota akan berbeda. Apalagi saat ini berbagai kabupaten kota, jumlah vaksinnya sudah mulai menipis setelah melakukan vaksinasi besar-besaran di berbagai titik.

"Saat ini memang kita gencarkan vaksin untuk masyarakat umum, juga kita mau mulai untuk vaksinasi bagi anak remaja," terang Padillah. Dia menegaskan, vaksin yang baru saja datang merupakan vaksin dari produsen Sinovac asal Tiongkok. Fadilah pun bersyukur saat ini masyarakat berlomba-lomba untuk divaksin. Tidak seperti awal dahulu yang harus dipaksa untuk vaksin. Animo masyarakat saat ini memang begitu antusias. Tempat-tempat vaksinasi selalu dipadati.

"Kalau dahulu orang-orang pada takut. Sekarang sudah tidak lagi," imbuhnya. Untuk diketahui, total sasaran vaksinasi di Kaltim sebanyak 2,57 juta orang. Dari angka itu, yang sudah divaksin dosis pertama baru 4,38 persen. Sedangkan, dosis kedua baru 1,34 persen. Pelaksana tugas Kepala Diskes Samarinda Ismid Kusasih menyampaikan, saat ini Samarinda bersiap menghadapi puncak pandemi yang keempat. Sehingga sasaran vaksinasi terus diperluas.

Dia melanjutkan, untuk membentuk herd immunity di Samarinda, maka minimal 140 ribuan penduduk harus divaksin. Angka itu belum termasuk yang sudah sembuh dari Covid yang berjumlah 13 ribuan orang. "Herd immunity kita sudah di angka 150 ribuan penduduk dari 930 ribu penduduk," pungkas Ismid. (nyc/riz/k8)