SAMARINDA–PenyebaranCovid-19 belakangan memang memprihatinkan, membuat pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terpaksa ditunda. Pembelajaran kembali digelar dengan metode dalam jaringan (daring).

"Sesuai instruksi pak wali kota. Kami tidak bisa memaksakan untuk tatap muka jika kondisinya tidak memungkinkan," jelas Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda Asli Nuryadin. Kembali menerapkan sistem daring, tentunya menghadapi masalah klasik yang belum terselesaikan. Blank spot menjadi permasalahan yang terus membayangi pendidikan daring. Khususnya di kawasan pinggiran Kota Tepian. Selain itu, ada masalah orangtua peserta didik yang tak memiliki ponsel pintar sebagai media belajar. "Kalau soal itu memang menjadi masalah utama yang dihadapi, enggak cuma di Samarinda, seluruh Indonesia juga," imbuhnya.

Menyikapi permasalahan klasik itu, Asli berharap para tenaga pengajar lebih berinovasi. Paling tidak bagi pengajar di kawasan susah sinyal dapat mencari lokasi belajar secara langsung dengan jadwal yang ditentukan. Namun, tetap memerhatikan protokol kesehatan. Jumlah murid harus dikurangi dari pembelajaran di kelas.

"Jadi harapannya guru-guru menggunakan kearifan lokal. Istilahnya lebih berjibaku. Jadi bisa saja mencari tempat untuk belajar. Dikumpulkan muridnya di luar (luar ruangan), misalnya cukup per lima orang dan paling banyak 10, atau bisa diantarkan bahan belajarnya ke rumah murid," imbuhnya.

Asli menerangkan, alasan dibangunnya sekolah di kawasan pinggiran untuk menyetarakan seluruh sekolah yang ada. Nantinya, fasilitas di sekolah pinggiran akan disamakan dengan sekolah di tengah kota. "Kami buka itu kan menyusur daerah pinggir. Biar sama (fasilitasnya) nantinya," kunci dia. (*/dad/dra/k8)