SAMARINDA–Peningkatan Jalan Dwikora yang digadang-gadang menjadi jalur alternatif ketika Jalan Pattimura tertutup material longsor, rupanya tak kunjung berjalan. Padahal, rencana peningkatan badan jalan sudah mengemuka sejak Desember 2020.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Samarinda Hero Mardanus Satyawan mengatakan, telah mendapat kontraktor pemenang lelang proyek senilai Rp 11,3 miliar. Pengerjaan fisik ditargetkan bisa berjalan akhir Juni lalu. Namun, seluruh rencana tersebut tak kunjung berjalan. Enam bulan berselang, kondisi badan jalan tidak berubah. Seperti pantauan harian ini (8/7). Pengerjaan fisik tak berjalan. Badan jalan yang menjadi jalur alternatif ketika Jalan Pattimura kembali tertutup longsor masih menyempit, rusak dan terjal. Susah dilalui kendaraan. Terlebih saat hujan mengguyur Kota Tepian.

Mempertanyakan nasib Jalan Dwikora, Hero terkejut. Sebab, pengerjaan fisik yang direncanakan dapat berjalan akhir bulan lalu rupanya tak berjalan. "Lho, masa belum dikerjakan," ucapnya. Meski terkejut lantaran pengerjaan fisik belum berjalan, dia menerangkan kontraktor pemenang lelang telah terpilih. Seperti di laman layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) Samarinda. Di mana PT Sapta Mulia Bersama menjadi pemenang kontrak dengan harga terkoreksi Rp 10,9 miliar.

Disinggung kembali terkait pengerjaan fisik jalan alternatif tersebut, Hero menyarankan untuk menggali informasi ke Farid selaku pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek peningkatan Jalan Dwikora. Namun, hingga kemarin sore, panggilan suara dan pesan singkat yang dikirimkan tak kunjung dijawab.

Untuk diketahui, pengecoran direncanakan dimulai dari persimpangan Jalan Dwikora sisi Kelurahan Mangkupalas hingga underpass Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) Gerbang Tol Palaran. Sepanjang 1,9 kilometer dan lebar 5 meter. Biaya yang akan dikucurkan senilai Rp 11,3 miliar melalui dana alokasi khusus (DAK). (*/dad/dra/k8)