SANGATTA - Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mempersilakan para aparatur sipil negara (ASN) bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Namun harus berkoordinasi dengan atasannya. "Apakah perlu menerapkan WFH atau tidak, tergantung kebijakan masing-masing OPD (organisasi perangkat daerah),” jelasnya.

Sejauh ini, pengaturan jam kerja di seluruh OPD memang belum diatur. Namun harus tetap dipahami oleh masing-masing OPD, penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik harus tetap berjalan.

"Bisa saja bekerja secara bergantian. Dalam PPKM Mikro, apabila tidak ada tugas yang mendesak di kantor, ASN harus tetap produktif bekerja dari rumah dan menjadi contoh teladan di lingkungan masing-masing OPD,” sebutnya 

ASN juga harus tetap bergotong-royong bersama TNI, Polri, dan tokoh masyarakat dimana pun berada. Khususnya dalam memutus mata rantai penyebaran virus.

“Sudah sesuai arahan Pak Presiden (Joko Widodo), agar TNI, Polri, dan ASN harus terlibat aktif dalam penanggulangan pandemi Covid-19. Khususnya saat PPKM darurat ini,” terangnya.

Sebelumnya, Kutim masih berstatus zona merah dalam penyebaran Covid-19. Padahal, beberapa kali status tersebut hampir menjadi zona kuning. Hal ini pun perlu diperhatikan. Terutama letak kelemahan yang menyebabkan Kutim kembali menyandang status zona merah. 

Sehingga berbagai upaya pencegahan pun terus digencarkan. Mulai dengan imbauan penerapan protokol kesehatan (prokes) secara ketat, hingga menjalankan program vaksinasi massal terhadap masyarakat.

Ada lima poin yang diinstruksikan orang nomor satu di Kutim itu. Di antaranya pemerintahan kecamatan di bawah pimpinan camat wajib mengoptimalkan pelaksanaan PPKM.

“Lebih mengintensifkan penerapan 5M (memakai masker, mencuci tangan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan serta membatasi mobilitas dan interaksi). Melakukan penguatan terhadap 3T (testing, tracing dan tratment),” tegasnya.

Selain itu, pembatasan dan pengetatan kegiatan masyarakat di fasilitas umum atau tempat wisata dan keramaian juga harus dimaksimalkan. Termasuk percepatan penanganan kesehatan khususnya dalam pencegahan 3T.

Pihaknya juga melakukan pemeriksaan untuk pelaku perjalanan lintas kabupaten pada pintu masuk di wilayah Kutim. Terutama yang melalui jalur darat, laut dan udara. Jika tidak membawa bukti swab antigen harus memutarbalik kendaraan.

Sebab, penjagaan akan diperketat, di kawasan Taman Nasional Kutai (TNK), Kilometer 21 Jalan Poros Sangatta-Bontang dan Desa Sangkima.  “Pelaku perjalanan antar kabupaten kota bisa mengikut swab di tempat penjagaan. Apabila tidak dapat menunjukkan bukti tes swab yang masih aktif,” ucapnya. (dq/ind)