BALIKPAPAN-Lonjakan kasus Covid-19 di Balikpapan membuat rumah sakit dan tenaga medis kewalahan. Jumlah kasus aktif yangmencapai lebih dari 190 kasus per hari, membuat tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit meningkat. Akibatnya, rumah sakit tidak mampu melayani pasien yang terpapar virus corona, sehingga menutup sementara pelayanannya.

Hal itu kini terjadi pada RSUD Beriman yang menutup sementara pelayanan IGD selama tiga hari. Terhitung mulai Rabu (7/7) hingga Jumat (9/7). Daya tampung IGD dan ruang perawatan RSUD Beriman sudah melebihi kapasitas. “IGD sendiri sebelumnya kapasitas delapan tempat tidur. Terus kami tambah jadi 18 tempat tidur. Ini pasien ada 25 tertahan di IGD,” kata Direktur RSUD Beriman dr CI Ratih Kusuma Widianingsih kepada Kaltim Post.

Dia melanjutkan, seluruh ruang isolasi pasien Covid-19 juga terisi penuh. Padahal pihaknya menyediakan 41 tempat tidur, lalu mengajukan tambahan 20 tempat tidur lagi. Untuk itu, dalam waktu dekat akan merekrut tenaga kesehatan tambahan 18 orang. Terdiri dari 16 tenaga perawat dan 2 dokter. “Sudah disetujui oleh bapak wali kota, untuk segera kami tindak lanjuti. Ini masih proses, karena ruangan yang akan dibuka perlu perbaikan plafon. Dan SDM-nya sedang kami rekrut. Ini masih menunggu yang akan daftar,” jelas perempuan yang sempat menjadi kepala Tim Medis Persiba Balikpapan ini.   

Sebelumnya, RSUD Beriman diwacanakan menjadi rumah sakit khusus Covid-19 di Balikpapan. Akan tetapi, hal itu tidak jadi dilaksanakan. Karena fasilitas dan tenaga medis yang belum siap menangani pasien khusus Covid-19. Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Balikpapan Andi Sri Juliarty mengungkapkan, opsi yang dipilih adalah memperbanyak tempat tidur di rumah sakit milik Pemkot Balikpapan itu. “Tiga hari lagi akan buka 20 tempat tidur tambahan. Tadi (kemarin) kami rapat, tempat tidur tambahan berada di Ruang Isolasi Gaharu,” katanya kemarin.

Perempuan yang akrab disapa Dio ini menuturkan, sembari menunggu hasil rekrutmen tenaga kesehatan, pemkot akan melibatkan tenaga medis TNI-Polri. Mereka juga akan diperbantukan di Asrama Haji Embarkasi Balikpapan. “Dan saat ini, ada satu tim tenaga medis dari TNI yang ditugaskan membantu perawatan pasien yang menjalani isolasi di sana,” ucap dia.

Jika melihat tren kasus yang terus meningkat dan tidak sebanding dengan jumlah tempat tidur yang ada, tidak menutup kemungkinan Pemkot Balikpapan akan mendirikan tenda perawatan di halaman rumah sakit. Seperti yang banyak dilakukan di rumah sakit yang ada di Jawa. “Kalau tidak sudah terkendali. Tenda tersebut bisa saja didirikan pada semua rumah sakit rujukan covid-19 yang ada di Balikpapan,” ungkap dia.

Namun, upaya yang bisa dilakukan saat ini adalah memperbanyak tempat tidur yang ada di tempat isolasi terpadu. Seperti di Hotel Grand Tiga Mustika dan Asrama Haji Embarkasi Balikpapan. Setelah dilakukan pengecekan, ada tambahan 30 kamar di Hotel Grand Tiga Mustika. Melengkapi 53 kamar isolasi yang sebelumnya digunakan. Dengan jumlah 106 tempat tidur. Sementara di Asrama Haji Embarkasi Balikpapan, ada 300 kamar tambahan. Dalam satu kamar tersedia sampai enam tempat tidur.

“Kami juga berterima kasih kepada Klinik Rumah Sakit AURI (Rumah Sakit TK IV Lanud Dhomber). Yang akan menambah 14 tempat tidur,” ucap perempuan berkerudung ini. Sementara itu, Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud menerangkan, mulai hari ini (8/7) pihaknya akan menerapkan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Sesuai arahan pemerintah pusat, guna menangani tren penyebaran Covid-19 yang terus mengalami peningkatan.

PPKM darurat akan diterapkan hingga 20 Juli mendatang. Imbasnya, kegiatan makan atau minum di tempat umum seperti di warung makan, rumah makan, kafe, pedagang kaki lima (PKL), lapak jajanan, baik yang berdiri sendiri maupun di pusat perbelanjaan atau mal, akan dibatasi jam operasionalnya hingga pukul 17.00 Wita. Selain itu, beberapa ruas jalan protokol akan ditutup untuk mengurangi mobilitas penduduk. “Langkah ini akan diambil sesuai arahan dari pemerintah pusat,” katanya.  Selain itu, kegiatan peniadaan salat berjamaah untuk sementara waktu akan dilakukan.

Seperti halnya kebijakan saat awal penanganan Covid-19 pada tahun lalu. Termasuk untuk kegiatan salat Jumat dan salat Iduladha yang dianjurkan untuk dilaksanakan di rumah saja. “Ini arahan dari pusat untuk meniadakan salat Jumat berjamaah dalam dua minggu ini. Bukan dilarang, tapi bisa diganti dengan salat Zuhur, karena ini kondisi darurat,” jelas dia. Pembelajaran tatap muka (PTM) yang seyogianya dilaksanakan pada 12 Juli pun akan ditunda kembali. “Terlepas dari pada kondisi ini, kita harus tetap semangat. Enggak usah kita panik. Namanya kondisi dan situasi ini harus kita hadapi dengan bijak,” pungkasnya. (kip/riz/k16)